Wisata Religi dan Sejarah Menjadi Pesona di Bumi Kalimantan Selatan

Wisata religi atau berziarah ke makam keramat, dan peninggalan tokoh ulama penyebar Islam di masa lalu masih menjadi primadona sebagian masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel). Hal itu masih menjadi daya tarik tersendiri bagi wilayah yang kurang lebih 97 persen beragama Islam.

Provinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah penduduk kurang lebih 5 juta jiwa ini terdapat banyak peninggalan sejarah penyebaran Islam seperti masjid, pesantren, makam para tokoh ulama penyebar Islam di masa lalu dan benda sejarah lainnya yang tersebar di 13 kabupaten/kota di Kalsel mulai abad 14an Masehi.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Dra.Hj Nurliani

Masjid Pusaka Banua Lawas dan juga populer disebut masjid Pasar Arba adalah masjid tua yang ada di Kabupaten Tabalong. Kabupaten paling ujung bagian timur Kalimantan Selatan, berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur kurang lebih 232 km dari Pusat Kota Banjarmasin Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

Sebagai informasi, masjid Pusaka Banua Lawas ini dibangun pada tahun 1625 M oleh Khatib Dayan (Alhabib Maulana Syarif Hidayatullah Al Idrus) dengan saudaranya Sultan Abdurrahman (Kesultanan Banjar) dan dibantu para tokoh masyarakat Dayak kala itu juga Datu Ranggana, Datu Kartamina, Datu Saripanji, Langlang Buana, Taruntung Manau, Timba Sagara, Layar Sampit, Pambalah Batung dan Garuntung Waluh (Sumber Wikipedia).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispersip) Provinsi Kalimantan Selatan Dra Hj Nurliani MAp saat kunjungannya ke Kabupaten Tabalong pada 12 Maret 2021 lalu selain mengunjungi wisata kuliner juga menyempatkan berziarah ke makam keramat tokoh ulama serta berkunjung ke masjid Pusaka Banua Lawas yang ada di Kabupaten Tabalong tersebut.

“Kadispersip Provinsi Kalsel Dra Hj Nurliani MAp kepada beritpembaruan.id Minggu (14/3/21) menyampaikan, pastinya kami tidak akan melewatkan wisata kuliner dan wisata religi yang ada di Kabupaten tabalong,” ungkapnya.

Di Tanjung atau Kabupaten Tabalong kami mengunjungi wisata kuliner Paliat, wisata religinya ziarah ke makam Habib Husein Haur Kuning, makam Syekh Muhamad Nafis bin Idris Ibnul Husein Al Banjari, makam Penghulu Rasyid dan terakhir ke mesjid Pusaka Lawas Banua Lawas.

Dra Hj Nurliani mengatakan, masjid Pusaka Banua Lawas di Kabupaten Tabalong ini termasuk masjid bersejarah di Kalimantan Selatan dan bukunya sudah di terbitkan oleh Dispersip Provinsi Kalsel pada tahun 2020 lalu.

“Bahkan buku itu sudah dibincangkan secara virtual di Palnam (Kantor Dispersip Kalsel) bulan November 2020 lalu,” terangnya. Bunda nunung sapaan akrab Hj Nurliani melanjutkan, wisata kuliner dan wisata religi ini bukan sekedar jalan-jalan biasa, tapi ada hubungannya dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Dispersip, seperti menghimpun buku-buku hasil karya putra daerah yang bernilai sejarah, adat istiadat, kesenian, kebudayaan Kalimantan Selatan (kearifan lokal) yang rencananya akan dialih mediakan ke dalam bentuk digital untuk menjaga keamanan koleksi dari kerusakan agar dapat bertahan dalam waktu yang lama.

“Kalau pun belum ada yang menulis buku tentang hal tersebut, maka kami akan mencoba untuk menggali informasi dan meminta teman-teman penulis setempat agar menuliskan ke dalam sebuah buku, supaya nantinya bisa diketahui masyarakat luas serta generasi mendatang,” tutur Bunda Nunuy.

Lanjut  Bunda Nunuy, bauntung banar ( beruntung sekali) bunda tadi diberi kesempatan oleh penjaga benda keramat di masjid Pusaka Tabalong, untuk memegang Songkol (balok tiang) Tiang guru masjid pusaka, juga tongkat pusaka khatib padahal awalnya dikunci. “Namun juru kunci bersedia membukakannya untuk bunda,” pungkasnya dengan rona wajah senang.

Sumber:beritapembaruan.id