Untuk Arsip Nasional, Penerbit Wajib Serahkan Karya Cetak dan Karya Rekam

Minimnya kesadaran penerbit dan produsen dalam menghimpun dan melestarikan karya cetak dan karya rekam (KCKR) untuk mewujudkan koleksi nasional, memacu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispresip) Kalsel mengelar sosialisasi terkait serah simpan karya cetak dan rekam yang tertuang UU No 13 Tahun 2018.

Foto bersama usai kegiatan sosialisasi UU No 13 Tahun 2018 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam. Foto istimewa.

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari yakni tanggal 5 hingga 6 Maret 2021 di salah satu hotel berbintang di Banjarmasin ini, turut menghadirkan tiga pembicara yang sangat berkompeten di bidangnya masing-masing, diantaranya Dra Tata Kurniawati selaku Pustakawan Ahli Madya/Koordinator Pengelolaan Hasil Seleksi Serah Simpan (KCKR), Dr Ramadhan Sekretaris Dispersip Kalsel, dan Wildan Akhyar Kabid Pelayanan dan Pembinaan Perpustakaan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispersip) Kalsel, Dra Hj Nurliani mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini telah digelar tiga kali sejak tiga tahun belakangan diadakan.

Diakui Bunda Nunung sapaan akrabnya, bahwa kesadaran penerbit untuk menyerahkan karya-karyanya ke Dispersip masih kurang. Sehingga tak hentinya Dispersip mengingatkan para penerbit maupun produsen KCKR untuk segera menyerahkan karya-karya mereka untuk disimpan.

Tujuan lain dari kegiatan yang digelar kali ini, untuk mewujudkan koleksi nasional dan melestarikan hasil budaya bangsa.  “Kita menggelar sosialisasi hari ini tujuan utamanya adalah sebagai penunjang pembangunan melalui pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, dalam artian melestarikan budaya bangsa,” tuturnya saat ditemui sembari kegiatan sosialisasi tersebut berlangsung.

Dirinya juga menuturkan bahwa serah simpan KCKR ini merupakan salah satu bagian dari budaya yang harus dilakukan.  “Serah simpan KCKR ini harus menjadi bagian dari budaya kita yang harus diwujudkan sehingga seluruh KCKR yang diterbitkan di daerah bisa disimpan dan dilestarikan untuk dapat dinikmati oleh anak cucu kita dikemudian hari,” ujarnya.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya/Koordinator Pengelolaan Hasil Seleksi Serah Simpan KCKR, Dra Tata Kurniawati, sekaligus pembicara dalam sosialisasi ini menerangkan bahwa setiap serah simpan KCKR wajib menyertakan dua eksemplar.  “Setiap penerbit wajib menyerahkan dua eksemplar dari setiap judul karya cetak kepada Perpusnas dan satu eksemplar ke Perpustakaan Provinsi sesuai domisili penerbit,” tutur Tatat.

Selain itu, Perpusnas juga memerlukan salinan digital atas karya cetak untuk kepentingan penyandang disabilitas.  Penyerahan karya dilakukan paling lama tiga bulan setelah diterbitkan. Begitu pula dengan Karya Rekam, produsen yang memublikasikan wajib menyerahkan masing-masing satu salinan rekaman dari setiap judul kepada Perpusnas dan Dispersip setempat.  “Penyerahan karya rekam paling lambat setahun setelah dipublikasikan. Karya rekam yang wajib diserahkan adalah berisi nilai sejarah, budaya, pendidikan, dan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.

Apabila penerbit dan produsen tidak melaksanakan kewajiban tersebut, maka pihak Perpusnas ataupun Perpustakaan Provinsi akan memberikan pembinaan dan sanksi lainnya.  “Namun jika setelah 2 bulan pasca pembinaan tidak juga melaksanakan kewajiban maka dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis, pembekuan kegiatan usaha bahkan pencabutan izin oleh pihak berwenang berdasarkan rekomendasi kami,” terangnya.

Sumber:terasbanua.com