Tiga Wisata Religi Sejarah di Tabalong, Kadispersip Kalsel: Harus Ada Karya Tulis sebagai Bahan Literasi

Pengumpulan catatan sejarah dan budaya Banua dilakukan untuk menjadi bahan literasi yang terdokumentasi dalam sebuah karya tulis seperti sebuah buku. Upaya itu dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dipersip) Kalsel saat berkunjung ke tempat wisata religi dan budaya di Kabupaten Tabalong. Setidaknya ada tiga lokasi wisata religi sejarah di Bumi Sarabakawa diantaranya, makam Syekh Haji Muhammad Nafis bin Idris Ibnul Husin Al Banjari di Kalua, Masjid Pusaka Banua Lawas dan Makam Penghulu Rasyid.

Makam Syekh Haji Muhammad Nafis bin Idris Ibnul Husin Al Banjari di Kalua. Foto: dispersip kalsel

“Kunjungan kami ke tempat-tempat bersejarah itu, sebagai upaya menghimpun data, kemudian ada upaya dari kita semua memperhatikan tempat-tempat yang bersejarah itu, melalui sebuah dokumen yang tersimpan dengan baik, menjadi bahan literasi ke depan bagi siapa pun yang akan mencari data maupun sejarah tempat-tempat bersejarah itu,” beber Kadispersip Kalsel Dra Hj Nurliani Dardie.

Tidak hanya itu saja, upaya mendokumentasi untuk bahan literasi agar tersimpan dengan baik, baik itu secara digital maupun secara fisik.

Makam Penghulu Rasyid. Foto: dispersip kalsel

“Adat istiadat, kesenian, kebudayaan Kalsel kearifan lokal harus dialih mediakan dalam bentuk digital, untuk menjaga keamanan koleksi dari kerusakan dan dapat bertahan dalam waktu yang lama,” kata Nurliani.

Masjid Banua Lawas, salah satu masjid bersejarah di Kalsel bukunya pernah diterbitkan oleh Dispersip Provinsi Kalsel pada tahun 2020, bahkan buku tersebut dibincangkan secara virtual di Palnam pada bulan November 2020 lalu, langsung bersama penulis. “Kalau pun blm ada buku yang menulis tentang tempat-tempat bersejarah itu. Kami akan coba menggali informasi dan meminta teman-teman penulis setempat agar menuliskan dalam bentuk buku, agar bisa diketahui masyarakat luas dan generasi mendatang,” pungkas Kadispersip Kalsel.

Sumber: kanalkalimantan.com