Talkshow Virtual Masjid Bersejarah Kalsel di Perpustakan Palam Banjarmasin

Dispersip Kalsel sukses menggelar Talkshow virtual dengan tema “Masjid-masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan, Kamis (27/08/20). Sebanyak 230 lebih peserta mengikuti talkshow ini, tidak hanya pengguna aplikasi zoom yang antusias mengikuti kegiatan ini, beberapa pengurus masjid di Banjarmasin juga tertarik datang langsung ke Perpustkaan Palnam menyaksikan launching dan diskusi buku ini.

Kepala Dispersip Kalsel, Hj. Nurliani M.AP dalam pidato pembukaan mengatakan, di tengah pendemi pihaknya tidak kehilangan kreativitas untuk berbagi ilmu dan wawasan kepada khalayak luas. Termasuk, komitmennya untuk terus mengangkat khazanah lokal Banua Banjar. “Kita selalu mendorong penulis-penulis lokal untuk turut meramaikan dunia literasi. Ada banyak khazanah lokal yang perlu kita gali dan angkat. Dengan diterbitkannya buku karya Aliansyah Jumbawuya dan Ahmad Barjie ini, demikianlah bentuk ikhtiar kita bersama dalam upaya memelihara nilai-nilai religi, historis, dan budaya yang ada pada masjid-masjid tua di Kalimantan. Sekaligus memperkenalkannya kembali kepada generasi sekarang dan akan datang,” ungkapnya kepada Banjarmasinpoat.co.id, Jumat (28/08/20).

Sementara itu, Penulis sekaligus Narasumber, Ahmad Barjie B, mengungkapkan jika masjid-masjid bersejarah di Kalsel tidak segera ditulis sementara orang-orang tua yang mengetahui persis cerita tentang masjid dimaksud satu persatu meninggal dunia, dikhawatirkan pengetahuan yang sangat berharga tersebut ikut tenggelam. “Dengan adanya buku luks yang penerbitannya dibiayai penuh oleh Dispersip ini, kita bisa menyebarluaskan ke masyarakat, sehingga mereka bisa mengkaji dan mempelajarinya,” ujarnya.

Aliansyah Jumbawuya yang juga merupakan narasumber menambahkan, seiring dengan waktu dan tuntutan zaman, renovasi masjid-masjid tua di Kalsel merupakan hal yang tak terelakkan. Kendati demikian, ia berharap keaslian bentuk dan artistektur awal bisa dipertahankan. Karena di situlah letak keunikan dan daya tariknya. “Paling tidak ada bagian-bagian tertentu yang dipertahankan keotentikannya. Jangan sampai dirombak secara total. Masjid Sultan Suriansyah misalnya, bentuk aslinya yang mengadopsi gaya Masjid Demak dengan perpaduan artistektur khas Banjar, sampai sekarang masih bisa kita lihat. Justru itulah orang tertarik datang untuk melihat,” ucapnya.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel, HM. Fadhly Mansoer, meyakini buku ini sangat berkontribusi bagi pengembangan syiar Islam. Terutama pada aspek spirit spiritual keagamaan. Sebab, fungsi utama masjid itu sebagai tempat ibadah, memantapkan aqidah tauhid. “Kedatangan Islam ke tanah Banjar melalui utusan dari Demak bergandengan tangan dengan proses pembangunan masjid. Di situ juga terjadi akulturasi budaya, sehingga Islam mudah diterima,” tandasnya.

banjarmasin.tribunnews.com