Talk Show Awal Tahun, Dispersip Kalsel Bedah Buku Rektor ULM

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan menggelar talk show virtual pertama di tahun 2021 bertema “Bicara Buku Membingkai Bayang-Bayang” karya Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof DR Sutarto Hadi, Rabu (13/1/2021).

Acara dilaksanakan pukul 14.00 Wita bisa disaksikan langsung di aplikasi zoom dan channel Youtube Dispersip Kalsel. Webinar pertama di awal 2021 ini menunjukkan konsistensi Dispersip Kalsel dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat di tengah pandemi “Ada banyak semangat dan inspirasi dalam buku beliau yang patut disebarkan ke khalayak umum. Ini menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi Dispersip Kalsel,” kata Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani, dalam sambutannya.

Buku Membingkai Bayang-Bayang adalah sebuah memoar perjalanan hidup Sutarto Hadi yang mengisahkan masa kecilnya sampai berhasil menjadi rektor. “Saya rasa bagus untuk dibagikan ke generasi muda. Segala sesuatu itu harusnya ditulis supaya bisa menjadi legacy bagi kita,” kata Sutarto.

Motivasi menulis juga didapatkan ketika dia bertemu seorang penulis ternama di Belanda. Dari pembicaraan keduanya, Sutarto mendapat pesan agar mulai menulis saat menemukan ide-ide cemerlang dan brilian. “Saya terinspirasi. Beliau yang membimbing saya saat seleksi mendapatkan beasiswa di negeri Belanda dan selama di sana banyak membantu. Beliau adalah penulis buku anak,” urai pria kelahiran Banjarmasin, 31 Maret 1966 silam.

Selama menjabat sebagai petinggi ULM selama dua periode, Sutarto mengaku banyak perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Sedikit banyak tulisannya juga menyinggung orang-orang sekitar yang berperan dalam perjalanan karirnya. Misalnya ketika ULM menerima dana hibah Rp 500 miliar untuk pembangunan gedung serta sarana dan prasarana perkuliahan. “Saya kasihan terhadap orang-orang yang bekerja tanpa pamrih namun tidak mengharapkan pujian (silent worker). Tetapi kerja mereka diklaim oleh satu orang. Saya kasihan dan mau mengungkapkan ini dalam sebuah buku yang bisa menjelaskan kepada khalayak bahwa semua adalah hasil kerja bersama,” jelasnya.

Dalam buku itu, dia juga mengisahkan bagaimana ULM bisa memeroleh akreditasi A, meningkatkan infrastruktur, hingga menambah SDM tenaga pengajar yang diisi para doktor dan guru besar. Dia menilai kesuksesan itu merupakan hasil kontribusi banyak orang, bukan hanya karena peran seorang rektor. “Motivasi lainnya, saya ingin mengangkat ULM ini. Mempromosikannya lewat buku akan membuat ULM lebih dikenal orang,” imbuhnya.
Alasan yang dia ungkapkan tadi, berangkat dari minimnya pengetahuan masyarakat di luar Kalsel atas eksistensi ULM di tingkat nasional.

Sebelum dicetuskan dengan sebutan ULM, kampus yang berada di dua kota besar di Kalsel ini akrab dengan nama Unlam. “Orang ingat konotasi Unlam itu adalah Lampung, bukan Lambung Mangkurat. Menerbitkan buku itu adalah salah satu promosi,” lanjut Guru besar Matematika ULM ini.

Sutarto mengaku miris mendapati perguruan tinggi yang telah berusia 60 tahun itu tidak mendapat tempat di kalangan mahasiswa luar Kalimantan. Buku Membingkai Bayang-Bayang juga diharapkan dapat meluruskan sejarah bahwa institusi tersebut dibangun oleh usaha kolektif bersama, bukan oleh personal. “Banyak hal yang memotivasi saya untuk menulis buku itu. Bayang-bayang itu bisa berarti angan-angan atau cita-cita yang dibingkai menjadi sesuatu yang nyata,” kata dia.

Dalam talk show ini, Dispersip Kalsel juga menghadirkan sejumlah nama yang turut berperan dalam pembuatan buku Membingkai Bayang-Bayang karya Sutarto Hadi. Mereka adalah Sumasno Hadi, pemimpin redaksi berita ULM dan Sainul Hermawan, akademisi ULM sekaligus kritikus sastra Kalsel. Sementara yang menjadi moderator adalah novelis Randu Alamsyah.

Kanalkalimantan.com