Sedaring Dispersip Kalsel, Bahas Tanaman Teratai Sebagai Sumber Pangan

Sebagai salah satu perpustakaan berbasis inklusi sosial, yakni perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, serta menawarkan kesempatan berusaha, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali membagikan informasi kepada khalayak luas, khususnya warga Banua, agar dapat membuka wawasan hingga berdampak terhadap perekonomian, dengan melaksanakan lagi gelar wicara virtual, bertajuk “Teratai Bunga Rawa Sejuta Pesona” menghadirkan narasumber berkompeten di bidangnya, Senin (07/09/2020).

Bincang virtual ini menghadirkan 2 Dosen Program Studi (Prodi) Teknologi Hasil Perikanan dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Ir. Rita Khairina, M.P. dan Dr. Yuspihana Fitrial, S.Pi., M.Si. Kemudian Bakti Nur Ismuhajaroh, S.P., M.P., Dosen Prodi Agronomi Fakultas Pertanian ULM, yang dimoderatori Nove Arisandi, S.P., M.P, praktisi pertanian.

Kegiatan ini sengaja diadakan Dispersip Kalsel, agar sumber potensial yang dimiliki daerah ini bisa dimanfaatkan optimal, seperti tanaman teratai, yang dikenal sebagai bunga rawa sejuta pesona. “Oleh karenanya kami menghadirkan tiga Srikandi Rawa di gelar wicara virtual kali ini, yang merupakan keterlibatan Perpus Palnam dalam menyukseskan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial,” papar Hj. Nurliani, M.AP., Kepala Dispersip Kalsel, dalam sambutannya saat membuka acara.

Salah satu narasumber memaparkan, bahwa tanaman teratai, atau yang banyak dikenal orang Banjar sebagai talipuk, bisa diambil manfaatkan dari batang, bunga, hingga akar. Seperti batangnya terdapat umbi, bunga dan tangkainya bisa menjadi sayur, dan kemudian rimpang atau pangkal batang,  di banyak literatur disebutkan sebagai farmakologi, yakni bahan obat-obatan dan kosmetik. Kemudian buahnya dapat diambil bijinya dan dijadikan tepung, hingga menjadi sumber pangan yang bisa dijadikan beragam produk.

Di antara produknya adalah bipang, yang kalau dalam bahasa Banjar, dikenal sebagai ulatih. Selain itu juga dapat dibuat bolu, roti, apam, kukis dan kue basah. “Karena tepung teratai teksturnya hampir sama dengan tepung beras, sehingga bisa mengganti makanan atau kue yang berbahan tepung beras,” ungkap Dr. Ir. Rita Khairina, M.P, saat mengisi sedaring di Kantor Dispersip Kalsel.

Potensi rawa lebak Kalsel dinilainya luar biasa, sehingga dibutuhkan kerjasama antar bidang, agar potensi ini dapat dijadikan salah satu upaya peningkatan ekonomi masyarakat, dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan.

jurnalkalimantan.com