Panting Dimainkan

Berkolaborasi dengan Sanggar Nuansa Banjarmasin, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan akan menggelar pertunjukan Musik Panting. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Propinsi Kalimantan Hj Nurliani mengatakan, kegiatan ini adalah program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Pertunjukan Musik Panting secara daring (online) ini, kata Hj Nurliani, adalah solusi mempromosikan perpustakaan di tengah pandemi Covid-19. Perpustakaan kini telah bertransformasi berbasis inklusi sosial dengan menjadi tempat berkegiatan masyarakat dalam bidang seni dan budaya. Selain mempertahankan khasanah budaya Kalimantan Selatan, program berbasis internet ini, menyejahterakan dan meningkatkan kualitas masyarakat. “Mempromosikan perpustakaan tak hanya dengan gemar membaca, namun kini perpustakaan telah bertransformasi berbasis inklusi sosial dengan menjadi wadah berkegiatan masyarakat dalam bidang seni dan budaya,” ujar Hj Nurliani yang akrab disapa Bunda Nunung.

Program ini, kata Bunda Nunung adalah kesepakatan Forum Rakernas Perpustakaan pada Februari 2020 lalu. Kala itu, Bunda Nunung menjadi Keynote Speech, yaitu sasaran strategis pembangunan perpustakaan di tahun 2020, antara lain adalah terwujudnya Indonesia cerdas melalui gemar membaca, terwujudnya layanan prima perpustakaan, dan terwujudnya perpustakaan sebagai pelestari khasanah budaya bangsa.

Ketiga hal ini, menurutnya bersinergi dengan misi Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan, salah satunya adalah ‘Kalsel Cerdas’ yang menjadi pedoman Dispersip dalam melaksanakan program kegiatan.

Perpustakaan, dilanjutkan Bunda Nunung, menjadi alternatif unik untuk berkarya dan berkreasi dengan dukungan ruang yang didesain sedemikan rupa agar menarik, ramah lingkungan, nyaman untuk berkegiatan baik siang maupun malam hari. Selain itu, juga dianggap memberikan dampak positif meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.

Bunda Nunung menjelaskan program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Program ini memfasilitasi masyarakat mengembangkan potensi dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memerjuangkan budaya dan hak asasi manusia.

Menghadapi era revolusi industri 4.0, perpustakaan harus berinovasi dengan mengedepankan teknologi. Penguasaan literasi yang tinggi diperlukan. Dunia, kata Bunda Nunung, menghadapi revolusi industri 4.0 dengan digitalisasi ‘Artificial Intelegence’, ‘ Internet of Things’ serta ‘ Big Dara’ memainkan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. “Mau tak mau, harus beradaptasi serta berevolusi sehingga tak telindas zaman,” ucapnya.

Pengembangan asisten virtual yang cerdas dan membantu pemustaka mendapatkan kebutuhannya juga perlu dilakukan agar tetap menarik pemustaka dari generasi muda. Untuk itu, ditambahkan Bunda Nunung, perpustakaan harus terus berinovasi. Ke depan, dapat menjadi tempat untuk menemukan pengalaman yang lebih kaya bagi pemustakanya. Perpustakaan juga akan menjadi paru-paru pengetahuan bagi dunia pendidikan.

Perpustakaan juga dapat berinvestasi menyediakan lingkungan (environment) bagi sekitarnya untuk menghasilkan konten-konten lokal dalam bentuk digital atau apapun untuk memperkaya wawasan. Perpustakaan adalah virtual office. Tempat inovasi dan ide dilahirkan. Dengan inovasi ini, kami menunggu para anak muda,” ujarnya.

Pembina Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin sekaligus pemerhati seni dan seniman Mamanda Kalsel, Arif Budiman mengatakan, sanggar ini diisi oleh anak-anak muda dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Program perpustakaan ini memberikan wadah ‘pertunjukan daring’ lantunan musik daerah Kalimantan Selatan, yaitu musik Panting hasil kolaborasi bersama Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin yang dilakukan secara daring pada Minggu (malam Senin), 28 Juni 2020 mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WITA.
“Nanti yang akan menjadi host dalam acara ini adalah mahasiswa FKIP ULM Jurusan Sendratasik serta semua personelnya anggota Perpustakaan Propinsi Kalimantan Selatan,” ujar Arif.

suratkabardigital.com