Pakai Seragam Dokter, Gia Pratama Berbagi 3 Tips Menulis

Penulis buku kenamaan “Perikardia”, dr Gia Pratama berkesempatan menyambangi Perpustakaan Palnam dan menyapa penggemarnya di Banjarmasin, Sabtu (14/3/2020) pagi. Gia datang sebagai pembicara dengan tema “Embara Buku & Temu Penulis”.

Uniknya, Gia datang dengan mengenakan seragam dokter sebagaimana ia bekerja sehari-hari sebagai tenaga medis. Mengapa? “Dari tulisannya ada ‘dr Gia Pratama’, padahal aku nggak mau pakai ini. Makanya tadi minta dipanggil kakak,” kata Gia sembari tertawa.

Dalam pemaparannya kepada penggemar, Gia mencoba berbagi pengalaman dalam menulis yang terinspirasi pada pengalamannya sebagai seorang dokter. Tentunya, ini tertuang dalam dua buku pertama yang ia rilis, salah satunya yang cukup populer yakni Perikardia.

Lalu, apa saja tips yang dibagikan kepada penggemar? Ada tiga tips yang Gia bagikan, yaitu who, what dan by. Dalam artian, siapa karakternya, apa yang dikejar dan apa saja tantangannya.

“Kalau menulis itu hobi. Dari dulu saya jualan puisi, kalau ada teman yang mau ‘pendekatan’, terus saya tuliskan puisinya dan teman saya bayar dulu 50 persen. Kalau ‘diterima’ baru 100 persen. Itu tantangan saya dari dulu, cuma difokuskan dan diseriuskan ketika menjadi dokter,” papar Gia.

Gia pun tidak menampik, dua pertiga waktunya dihabiskan di rumah sakit. Terutama jika menangangi pasien yang tengah sakit. Diakuinya, Gia dibanjiri pertanyaan dari followers-nya di Twitter soal bagaimana ia membagi waktu antara menulis dengan kesehariannya sebagai dokter. Gia sendiri pernah membuat survei di Twitter dan hasilnya, 80 persen followers-nya masih terlelap tidur atau tidur lagi usai shalat Subuh di pukul 05:00 hingga 06:00 WIB pagi.

“Itu waktu aku menulis, cuma satu jam sehari yaitu dari pukul 05:00 hingga 06:00 WIB pagi. Tapi setiap hari dalam waktu 10 bulan. Akhirnya jadi satu buku,” lugasnya.

Di samping itu, Gia melihat kesulitan para penulis untuk membuat suatu tulisan, lantaran melakoni penulis merangkap editor. Padahal, Gia mencoba menempatkan diri di dua sisi berbeda, yaitu sebagai penulis dan sebagai editor.

“Saat aku jadi penulis, aku tidak jadi editor sama sekali. Apa yang ada di kepala langsung tertuang dalam tulisan. Saat jadi editor baru, karena yang jelas writing is rewriting, menulis adalah menulis ulang. Jangan digabungin, harus dipisahkan,” jelas Gia.

Sementara itu, Kepala Dispersip Kalsel melalui Kabid Pelayanan dan Pembinaan Perpustakaan Wildan Akhyar mengungkapkan, selain menghadirkan dr Gia, Dispersip Kalsel juga menghadirkan bersama dengan Mohamad Arif Luthfi, Plt CEO Mizania & CO atau Penerbit Mizan. Tujuannya, agar memberikan stimulus kepada penulis lokal Kalsel untuk bisa menulis dan mendapatkan akses ke penerbit.

Diakui Wildan, ada cerita bahwa penulis lokal bisa saya menulis, tapi untuk bisa ‘menembus’ ke penerbit tidak gampang. Tentunya, dengan menghadirkan langsung penerbitnya, Wildan yakin menjadi kesempatan besar bagi penulis lokal untuk bisa menelurkan sebuah karya tulis.

“Sampai Luthfi membagikan kartu namanya, itu sebenarnya memanfaatkan. Baru kita cerita, di mana kekurangannya. Karena penerbit punya persepsi tertentu. Misalnya nilai jual supaya bisa diterbitkan. Ini kita sama-sama belajar,” beber Wildan.

kanalkalimantan.com