Lima Perpustakaan Desa Raih Bantuan Pengembangan Layanan Berbasis Inklusi Sosial

Perjuangan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel merekomendasikan beberapa perpustakaan desa di sejumlah kabupaten ke Perpustakaan Nasional, akhirnya membuahkan hasil. Tahun Anggaran 2020 ini, pengajuan tersebut disetujui. Sedikitnya ada lima Perpustakaan Desa di 3 kabupaten mendapatkan program perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Ini berdasarkan surat Nomor :

180/4.1/PPM.00.00/VI/2020 tanggal 16 Juni 2020 yang ditandatangain oleh Drs. Deni Kurniadi, M.Hum, Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Peningkatan Minat Baca Perpusnas RI.

Kelima perpustakaan desa tersebut yaitu :

Kabupaten Banjar
1. Perpustakaan Maju Bersama Desa Sungai Rangas Tengah

2. Perpustakaan Ilman Nafi A Desa Bi’ih

Kabupaten Kotabaru

1. Perpustakaan Lontar Utara Desa Lontar Utara

Kabupaten Tabalong

1. Perpustakaan Cahaya Ilmu Desa Paliat

2. Perpustakaan Sumber Ilmu Desa Nalui

Menurut Kepala Dispersip Kalsel Dra. Hj. Nurliani Dardie, perpustakaan desa tersebut akan mendapatkan bantuan sarana dan prasarana penunjang layanan perpustakaan dan pengembangan kompetensi SDM pengelola perpustakaan desa. “Program Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi dan memperjuangkan hak azazi manusia,” kata Bunda Nunung -sapaan akrabnya.

Ia menambahkan, program ini bertujuan pula memperkuat peran perpustakaan desa dalam meningkatkan kualitas SDM di lingkuangan sekitar desa. Sehingga kemampuan literasi meningkat yang berujung peningkatan kreativitas masyarakat dan kesenjangan informasi.

Perpustakaan Desa yang dipercaya mendapatkan program perpustakaan berbasis inklusi sosial selain menyediakan sumber-sumber bacaan untuk mengganti informasi dan pengetahuan wajib memfasilitasi masyarakat dengan berbagai kegiatan pelatihan dan keterampilan. Bertujuan untuk pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat.

Dengan upaya tersebut diharapkan performa individu meningkat, sistem dan organisasi perpustakan menjadi kuat, sehingga berdampat pada membaiknya kualitas layanan perpustakaan dan juga pemanfaatannya oleh masyarakat dan secara otomatis akan meningkatkan literasi masyarakat. “Program ini kelanjutan dari program beberapa tahun sebelumnya yang dikelola oleh Coca Cola Foundation dan sejak 2 tahun terakhir dilakukan oleh Perpusnas RI. Di bawah program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dan Kalsel selalu ditunjuk setiap tahunnya beberapa perpustakaan desa dan pada tahun ini, yang terbanyak untuk Kalsel yaitu 5 desa yang sebelumnya hanya 2 s/d 3 desa,” jelas Bunda Nunung.

Ia berharap, program ini dapat terlaksana dengan seksama dan akan meningkatkan minat baca, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa perpustakaan yang mendapat program tersebut. Sehingga keberadaan perpustakaan desa akan semakin dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan pendapatan dengan memusatkan perpustakaan sebagai ajang pembelajaran dan pelatihan keterampilan yang disesuaikan dengan kondisi budaya, alam dan sosial masyarakat. “Semoga ditahun-tahun mendatang semakin banyak lagi perpustakaan desa di Kalimantan Selatan mendapatkan program perpustakaan berbasis inklusi sosial tersebut,” tandasnya.

Kanalkalimantan.com