Lihat Langsung Transformasi Perubahan di Perpustakaan Palnam, Ini Komentar Ombudsman RI Perwakilan Kalsel

Ombudsman RI Perwakilan Kalsel mengunjungi Perpustakaan Palnam Dispersip Kalsel, Jum’at (21/2/2020). Kedatangan jajaran yang dipimpin oleh Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalsel Noorhalis Majid ini, untuk melihat langsung kondisi terkini perpustakaan terbesar di Kalsel ini.

Di sela-sela kunjungan, Kepala Dispersip Kalsel dra Hj Nurliani Dardie berkesempatan mengajak jajaran Ombudsman RI menengok setiap sudut Perpustakaan Palnam. Termasuk, melihat langsung Kids Library, ruang baca umum hingga ruang pembuatan kartu tanda anggota (KTA).

Kepada Kanalkalimantan.com, Noorhalis Majid mengaku tercengang dengan transformasi Perpustakaan Palnam di bawah kepemimpinan Bunda Nunung -sapaan akrab Hj Nurliani Dardie- selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, butuh orang bertangan dingin yang mampu ‘menyulap’ perpustakaan menjadi tempat menarik.

“Bagus, karena memang harus ada tangan dingin, dalam artian orang yang memang menjiwai untuk melakukan inovasi dan perubahan-perubahan,” kata Majid.

Diakuinya, kendati perpustakaan telah disulap menjadi baik belum tentu mendapat kunjungan dari masyarakat. Apalagi jika fasilitas seperti parkir atau ruangan yang kurang nyaman yang mengakibatkan masyarakat yang berkunjung kurang betah. Sehingga, apa yang dilakukan oleh Bunda Nunung bentuk upaya memberikan kenyamanan kepada masyarakat. Maka, durasi kunjungan orang tersebut menunjukkan bahwa masyarakat betah di sini untuk menikmati suasana perpustakaan.

 

“Bahkan, di sini bisa menjadi tempat rekreasi bagi keluarga untuk membawa anaknya. Karena ada ruang bermain untuk anak, ruang ramah untuk balita. Serta ruang yang representatif buat mahasiswa untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, dikarenakan tersedia ruangan yang nyaman untuk mengerjakan tugas,” beber Majid.

Majid tidak menampik banyak perbedaan yang signifikan antara perpustakaan saat ini dengan masa lalu. Namun demikian, Majid menjelaskan, untuk saat ini Perpustakaan Palnam dapat dibandingkan dengan perpustakaan lainnya, karena pembenahan juga dilakukan oleh perpustakaan lain.

“Apa yang dilakukan oleh Bunda Nunung sudah sesuai standar kalau kita bandingkan dengan perpustakaan kampus-kampus lain,” tambah Majid.

Ia mencontohkan Perpustakaan di UIN Antasari Banjarmasin yang tengah berbenah, ataupun perpustakaan Universita Lambung Mangkurat (ULM) kendati progresnya yang lamban. Atau dengan perpustakaan di Yogyakarta yang mempunyai inovasi yaitu membangun jaringan sehingga terkoneksi dengan seluruh perpustakaan kampus di Yogyakarta. “Mereka punya tenaga untuk mengantarkan pesanan buku-buku ke rumah pemesan. Itu merupakan bagian dari inovasi yang selanjutnya bisa dikembangkan oleh Bunda Nunung,” tandas Majid.

kanalkalimantan.com