Keotentikan Masjid Bersejarah Jadi Daya Tarik Pengunjung

Perpustakaan Palnam kembali menggelar talk show virtual. Kali ini mengupas buku “Masjid-Masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan” karya Aliansyah Jumbawuya dan Ahmad Barjie, yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalsel, Kamis (27/8).

Rupanya, tema yang dipilih cukup menarik peminat. Buktinya, acara ini diikuti 230 lebih peserta. Tak hanya pengguna aplikasi zoom yang antusias mengikuti kegiatan ini, beberapa pengurus masjid di Banjarmasin juga tertarik datang langsung ke Palnam menyaksikan launching dan diskusi buku ini.

Kepala Dispersip Kalsel, Hj Nurliani MAP dalam sambutan pembukaannya mengatakan, meski di tengah pendemi pihaknya tidak kehilangan kreativitas untuk berbagi ilmu dan wawasan kepada khalayak luas. Termasuk, komitmennya untuk terus mengangkat khazanah lokal Banua Banjar. “Kita selalu mendorong penulis-penulis lokal untuk turut meramaikan dunia literasi. Ada banyak khazanah lokal yang perlu kita gali dan angkat. Penerbitan buku karya Aliansyah Jumbawuya dan Ahmad Barjie ini salah satunya, sebagai bentuk ikhtiar kita bersama dalam upaya memelihara nilai-nilai religi, historis, dan budaya yang ada pada masjid-masjid tua di Kalimantan. Sekaligus memperkenalkannya kembali kepada generasi sekarang dan akan datang,” jelas Bunda Nunung, panggilan akrab Hj Nurliani.

Ahmad Barjie B, penulis sekaligus narasumber, mengungkapkan, masjid-masjid bersejarah di Kalsel selama ini tidak segera ditulis. Sementara orang-orang tua yang mengetahui persis cerita tentang masjid dimaksud satu per satu meninggal dunia. Sehingga dikhawatirkan pengetahuan yang sangat berharga tersebut ikut tenggelam. “ Dengan adanya buku luks yang penerbitannya dibiayai penuh oleh Dispersip ini, kita bisa menyebarluaskan ke masyarakat, sehingga mereka bisa mengkaji dan mempelajarinya,” ujar Barjie.

Aliansyah Jumbawuya menambahkan, seiring dengan waktu dan tuntutan zaman, renovasi masjid-masjid tua di Kalsel merupakan hal yang tak terlelakkan. Kendati demikian, ia berharap keaslian bentuk dan artistektur awal bisa dipertahankan. Sebab, di situlah letak keunikan dan daya tariknya. “Paling tidak, ada bagian-bagian tertentu yang dipertahankan keotentikannya. Jangan sampai dirombak secara total. Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin misalnya, bentuk aslinya yang mengadopsi gaya Masjid Demak dengan perpaduan artistektur khas Banjar, sampai sekarang masih bisa kita lihat. Justru karena itulah orang tertarik datang untuk melihat,” ucapnya.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel, HM Fadhly Mansoer, meyakini buku ini sangat berkontribusi bagi pengembangan syiar Islam. Terutama pada aspek spirit spiritual keagamaan kita. Sebab, fungsi utama masjid itu sebagai tempat ibadah, memantapkan aqidah tauhid. “Kedatangan Islam ke Tanah Banjar melalui utusan dari Demak bergandengan tangan dengan proses pembangunan masjid. Di situ juga terjadi akulturasi budaya, sehingga Islam mudah diterima,” tandasnya.

maknanews.com