Keluarga Pembaca (Sebuah Catatan Hari Anak Nasional)

Seperti kita ketahui bersama bahwa di Indonesia ada momen khusus yang memberikan perhatian kepada anak-anak melalui sebuah peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 23 Juli 2019.

Peringatan HAN tersebut sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia dan biasanya dirayakan secara besar-besaran. Tema yang diangkat pada HAN 2019 yaitu “Kita Beda, Kita Bersaudara Bersama Kita Maju”. Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2019 bertema “Peran Keluarga dalam Pelindungan Anak” dengan slogan “Kita Anak Indonesia, Kita Gembira”.

Di setiap negara, perayaan hari anak berbeda-beda, hal ini sesuai dengan resolusi Majelis Umum PBB 836 (IX) tanggal Desember 1954 yang memberikan rekomendasi kepada semua pemerintahan di setiap negara untuk meresmikan hari anak pada tanggal yang sesuai dengan pertimbangan masing-masing negara.

Di Indonesia HAN diperingati pada tanggal 23 Juli setiap tahun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anak secara keseluruhan sekaligus merenungkan apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan dunia anak yang lebih baik.

Sejarah hari anak nasional berawal dari gagasan mantan presiden RI ke-2 (Soeharto), yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, sehingga sejak tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI No 44 tahun 1984, ditetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai HAN yang dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah.

Untuk menunjang kesejahteraan anak serta melindungi hak-hak anak-anak sebenarnya secara hukum dan perundangan, telah banyak hal dilakukan oleh negara. Diantaranya pemerintah RI seperti telah diundangkannya UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang memuat berbagai ketentuan tentang masalah anak di Indonesia.

Instruksi Presiden No. 2 tahun 1989 telah ditetapkan tentang Pembinaan Kesejahteraan Anak sebagai landasan hukum terciptanya Dasawarsa Anak Indonesia 1 pada tahun 1986 – 1996 dan Dasawarsa Anak II pada tahun 1996 – 2006.

Juga dengan dibentuknya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai insitusi independen guna melakukan pengawasan pelaksanaan upaya perlindungan anak yang dilakukan oleh institusi negara serta melakukan investigasi terhadap pelanggaran hak anak yang dilakukan negara, KPAI juga dapat memberikan saran dan masukkan secara langsung ke Presiden tentang berbagai upaya yang perlu dilakukan berkaitan dengan perlindungan anak.

Usaha lain yang dilakukan pemerintah untuk melindungi anak-anak, yaitu pada Kabinet Indonesia bersatu jilid kedua, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mengganti nama Kementerian Pemberdayaan Perempuan menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Makna HAN
Sebagaimana latar belakang Keppres RI No. 44 tahun 1984, dengan peringatan HAN diharapkan pemerintah bersama-sama seluruh lapisan masyarakat dapat bersama-sama berpartisipasi secara aktif untuk meningkatkan kepedulian dalam menghormati, menghargai dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi dan memastikan segala hal yang terbaik untu anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Dengan itu peringatan makna HAN adalah sebagai hari untuk meningkatkan kepedulian semua warga bangsa Indonesia, baik orangtua, keluarga, masyarakat swasta dan pemerintah terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak Indoensia untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga menjadi generasi penerus yang berkualitas tinggi.

Tradisi Literasi Keluarga
Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama, memiliki peran yang sangat besar dalam melahirkan generasi penerus yang berkualitas tinggi. Hal ini sesuai dengan puncak peringatan HAN 2019 ini bertemakan “Peran Keluarga dalam Pelindungan Anak”. Salah satu peran keluarga dalam upaya melahirkan generasi yang berkualitas tinggi adalah mengupayakan sebuah keluarga yang memiliki tradisi literasi (membaca) yang tinggi.

Dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh psikolog-peneliti di University of Washington Nicole Lynn Alston-Abel & Virginia W. Berninger berjudul Relationships Between Home Literacy Practices and School Achievement: Implications for Consultation and Home-School Collaboration, yang dipublikasikan di Journal of Educational and Psychological Consultation, menemukan aktivitas literasi di rumah dapat menjadi alat bagi anak-anak untuk meraih kesuksesan seumur hidup.

Orang yang berprestasi akademik cemerlang cenderung menjadi karyawan baik yang tepat waktu dan mengusahakan hasil yang terbaik. Semua hal yang membuat Anda menjadi siswa yang baik juga membuat Anda menjadi karyawan teladan.

Intinya masih penting untuk memiliki orangtua yang terlibat dalam mengembangkan kebiasaan dan memberi contoh pentingnya anak menjadi sukses. Status sosio ekonomi tak jadi masalah. Kesuksesan akademis adalah kunci. Guru, orangtua, dan siswa semua punya peran. Membina kemitraan di rumah-sekolah yang meningkatkan dan memperluas pengalaman pelajar dapat memupuk kebiasaan yang mendukung kesuksesan.

Membiasakan membaca memang bukanlah perkara yang mudah, perlu dukungan dari berbagai pihak. Karena pentingnya kebiasaan membaca di rumah, pemerintah Indonesia telah mencanangkan program Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (Gernas Baku) melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI guna mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan, di rumah, satuan PAUD, dan di masyarakat.

Gerakan ini secara resmi telah dilaksankan serentak di Indonesia pada tanggal 5 Mei 2018 yang telah dimulai program dan pengkajiannya sejak bulan Februari 2018 melalui kegiatan bulan sosialisasi dan kampanye serta seminar nasional Gernas Baku.

Tujuan gerakan ini adalah membiasakan dan menumbuh kembangkan minat baca anak usia dini. Bersama orangtua dan anak akan mempererat hubungan sosial emosional antara anak dan orangtua yang saat ini sudah mulai luntur dengan kesibukan orangtua di dunia kerja. Selain anak, gerakan ini juga akan membiasakan orangtua membacakan buku bersama anak.

Gernas Baku melibatkan orangtua ketika anak berada di rumah. Berbagai kegiatan dapat dilakuakan orangtua dengan langkah awal memahami kemampuan membaca anak sesuai tahap perkembangannya. Orangtua akan belajar bagaimana memahami teknik yang menarik minat anak untuk gemar membaca dan membiasakan membacakan buku untuk anak.

Satuan PAUD yang berisi warga sekolah menciptakan berbagai kegiatan untuk mendukung gerakan ini. Sekolah menyediakan pojok baca dan perpustakaan untuk memupuk minat anak dalam membaca buku.Orangtua juga dapat dilibatkan sebagai sukarelawan membacakan buku untuk anak. Sedangkan masyarakat melalui berbagai komunitas baca juga bisa menjadikan sarana untuk mendukung gerakan ini.

Gernas Baku menjadi salah satu solusi bersama dalammelahirkan keluarga-keluarga yang cinta membaca guna meningkatkan minat baca anak, bersama orangtua, sekolah dan masyarakat bersama-sama menciptakan kondisi menyenangkan dan mendukung kebiasaan membaca.

Berharap,dengan membaca, masa depan anak akan mampu bertahan di tengan perkembangan zaman yang begitu cepat dan terus bersaing. Mari kita terus sukseskan Gernas Baku ini dengan menjadikan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak dalam menanamkan kecintaan membaca. Selamat Hari Anak Nasional yang ke 35, Keluargaku Cinta Membaca. Cinta Keluarga, Cinta Terencana. Kita Anak Indonesia, Kita Gembira. (*)

Sumber : banjarmasinpost