Karya Penulis Banua Perkaya Koleksi iKalsel Dispersip Kalsel

Di musim pendemi seperti sekarang, kehadiran iKalsel yang diluncurkan sejak dua tahun lalu kian terasa manfaatnya. Mereka yang enggan ke luar rumah dengan mudah bisa mengakses iKalsel untuk mengisi waktu luangnya.

Agar bahan bacaan yang tersedia semakin bervariatif, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) provinsi Kalimantan Selatan mulai menambahkan karya penulis Banua ke dalam aplikasi iKalsel. “Aplikasi ini sudah diluncurkan tahun 2018 lalu dan dilaunching langsung oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor. Untuk memperkaya koleksi iKalsel, baru-baru tadi kami mengupload e-book karya-karya penulis Banua,” kata Kepala Dispersip Kalsel, Hj. Nurliani, M.AP, Minggu (23/8/2020).

Ada pun buku yang dimaksud, jelas dia, yakni Aneka Kuliner Khas Kalimantan Selatan karya Rita Khairina, Banjarbaru Sejarah, Pesona, Potensi oleh Randu Alamsyah, Antologi Puisi Terus Melangkah (Agustina Thamrin), Mozaik Sejarah Banjar dan Masjid-Masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan (Aliansyah Jumbawuya – Ahmad Barjie).

Menurutnya, diantara lima buku tersebut diterbitkan oleh Dispersip Kalsel antara lain Masjid-masjid Bersejarah di Kalsel, Aneka Kuliner Khas Kalsel, Mozaik Sejarah Banjar. Buku tersebut tidak diperjualbelikan, hanya ada di Dispersip Kalsel atau Perpustakaan Palnam untuk dilayanpinjamkan kepada pemustaka dan tidak ada di toko buku manapun. “Ke depan, insya Allah lebih banyak lagi karya penulis Banua lain yang akan kita fasilitasi untuk dipublikasikan di aplikasi iKalsel. Di antaranya, Sainul Hermawan, seorang sastrawan sekaligus dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat sudah menyatakan kesediaannya menyerahkan beberapa karyanya untuk ditayangkan diaplikasi iKalsel, ” tandasnya.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Nunung ini menambahkan, pihaknya sudah dua kali mengadakan sosialisasi Undang-undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Rekam dengan mengundang para penulis dan penerbit dari 13 Kabupaten/Kota se-Kalimantan Selatan.

Di situ ada kewajiban penulis/penerbit untuk menyerahkan dua eksemplar karya mereka ke perpustakaan provinsi maupun pusat.

Tujuannya, tiada lain agar karya mereka terpelihara di bagian deposit. “Biasanya para peneliti atau mahasiswa yang ingin membuat skripsi sering datang ke bagian deposit ini. Kebanyakan yang mereka cari adalah buku-buku lokalitas Kalimantan Selatan yang susah dicari di luar,” ujar Bunda Nunung.

Dia berharap kesadaran penulis-penulis Kalsel untuk menyerahkan karya mereka, sehingga ketika dipublikasikan di aplikasi iKalsel semakin memudahkan calon pembaca untuk mengakses dan mengambil manfaat.

banjarmasin.tribunnews.com