Kabid Perpus Mura, Yusup Jaya S.Pd : Refresentatif, Transformasi, Ingin Punya Perpustakaan seperti Dispersip Palnam

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimatan Selatan melalui program transformasi berbasis inklusi sosial merupakan upaya pemerintah dalam penguatan literasi di masyarakat dan pemerataan informasi untuk peningkatan kesejahteraan. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan serta menawarkan kesempatan berusaha.

Tahun ini, sebanyak 450 perpustakaan desa di 159 kabupaten di 32 provinsi di Indonesia masuk dalam program transformasi berbasis inklusi sosial.

Hari Senin, 03 Mei 2021, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Selatan DR M Ramadhan SE ME AK CA beserta jajarannya menyambut kunjungan perjalanan dinas Kepala Bidang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Murung Raya, Yusup Jaya S.Pd.

Pada kesempatan ini, Yusup Jaya S.Pd diterima dengan baik oleh Plh Kadispersip Kalsel DR M Ramadan SE ME AK CA di Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi kalimantan Selatan, Senin (3/5) Pagi.

Diharapkan dengan adanya pertemuan ini dapat menjadi wadah untuk saling bertukar informasi antar Dispersip Kalsel dan juga Dispersip Kabupaten Murung Raya mengenai tata kelola perpustakaan dan juga arsip yang baik.

Maksud dari kunjungan perjalan dinas Kepala Bidang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Murung Raya ini adalah tindaklanjut surat dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Murung Raya perihal Perjalanan Dinas mengenai Sinkronisasi Program Transformasi Literasi Berbasis Inklusi Sosial Tahun 2021 di Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi kalimantan Selatan.

Yusup Jaya S.Pd, ke Perpustakaan Palnam, membuka inspirasi bagi dia.

Kabid Perpus Mura, Yusup Jaya S.Pd : Refresentatif, Transformasi, Ingin Punya Perpustakaan seperti Dispersip Palnam

Dia menuturkan, ingin sekali membawa konsep Perpustakaan Palnam yang sudah sangat nyaman, pelayanan yang ramah dan koleksi buku yang lengkap.

“Kayaknya harus sering-sering belajar ke sini supaya perpustakaan di Kabupaten Murung Raya bisa menyamai fasilitas di Perpustakaan Palnam. Sangat ingin mencontoh konsep perpustakaan seperti ini. Bisa untuk diskusi dll, tidak cuma untuk membaca,” kata dia.

Dalam Kunjungan perjalanan dinas selama penugasan 3 hari 05 sd 07 Mei 2021, Yusup Jaya S.Pd menyampaikan bahwa “Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan mengamini permohonan tersebut dan akan melaporkan hasil pelaksanaan tugas tersebut kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Murung Raya,” ujarnya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Murung Raya, Dr Yulianus S.Pd  mengucapkan terimakasih kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Hj Dra Nurliani Dardie MAP melalui Plh Dispersip Kalsel DR M Ramadhan SE ME AK CA beserta Tim. Yulianus berharap agar hubungan dan kerja sama yang baik ini bisa terus dipertahankan dan bisa lebih ditingkatkan kedepan.

Sementara itu Ramadhan mengatakan, “Transformasi perpustakaan bebasis inklusi sosial memiliki tujuan untuk meningkatkan terciptanya masyarakat yang sejahtera. Sekaligus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan meningkatkan penggunanaan layanan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan,” ujar Plh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Selatan DR M Ramadan SE ME AK CA di Banjarmasin.

Dikatakan, strategi transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial mendesain perpustakaan dan koleksinya untuk dimanfaatkan masyarakat seoptimal mungkin. Hal ini menjadikan perpustakaan sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan perpustakaan, ruang untuk belajar kontekstual dan perpustakaan sebagai ruang berlatih keterampilan kerja. Indikator yang diharapkan adalah peningkatan pelibatan masyarakat dalam kegiatan perpustakaan maupun peningkatan jumlah kemitraan perpustakaan dengan berbagai lembaga.

“Kami berharap melalui program transformasi berbasis inklusi sosial ini dapat menghasilkan dampak yang luar biasa di tengah masyarakat. Perpustakaan berperan bukan hanya mencerdaskan masyarakat tetapi juga mensejahterakan masyarakat baik di tingkat keluarga maupun masyarakat secara luas,” harapnya.

Ramadhan, menyampaikan dalam masa pandemi Covid-19 saat ini banyak hal yang terdampak terutama pada aspek kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Perpustakaan yang menjadi pusat literasi masyarakat harus bisa melakukan sesuatu untuk membantu masyarakat bangkit dari kesulitan.

“Literasi bukan hanya sebatas kemampuan mengenal huruf dan angka namun dimaknai lebih luas sebagai proses dimana kita dimampukan menerima informasi, mengolah, menganalisa dan mengaplikasikannya dalam hidup. Apalagi di masa pandemi perpustakaan harus mampu membangkitkan gairah perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Ramadhan mencontohkan, seperti halnya di Provinsi Bali dimana sektor pariwisata yang menjadi sektor unggulan sangat dirasakan dampaknya pada masa pandemi saat ini. Banyak usaha usaha yang terkait sektor ini tutup sehingga PHK pun tidak terelakkan. Namun, ada seorang chef dari Bali bernama Made Suwardika yang mampu membangkitkan ekonomi keluarganya dengan membuka usaha bumbu dan ternak lele. Keberhasilannya ini tidak lepas dari peran perpustakaan.

“Karena di PHK, pak Made kemudian mencari bahan bacaan di perpustakaan sesuai dengan keahliannya. Dari sinilah muncul inspirasi untuk membuka usaha bumbu Bali,” lanjutnya.

Sementara itu di sela mengikuti Diklat Kepemimpinan Tk. II di Banjarbaru, melalui pesan whatsapp kepada Liputan4.com, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Hj Dra Nurliani Dardie M.AP, menambahkan, Dalam penerapan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, lanjutnya  perpustakaan desa dapat melakukan variasi kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sumber daya yang mereka miliki.

“Pada pelaksanaan program transformasi berbasis inklusi sosial ini diperlukan dukungan dari pemerintah desa, kabupaten/kota dan provinsi. Selain itu juga komitmen perpustakaan harus siap memberikan layanan prima, agar tercapai tujuan mensejahterakan masyarakat,” ungkapnya. Ia mengatakan, untuk meyakinkan pemerintah desa bahwa keberadaan perpustakaan sangat dibutuhkan masyarakat, maka perpustakaan desa harus bekerja sama dengan pemerintah desa setempat.

“Harus meyakinkan dan membuktikan kepada pemerintah desa dan masyarakat bahwa perpustakaan desa membantu menyediakan bahan bacaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat lebih membutuhkan informasi tepat guna, seperti bagaimana mengelola desa dengan beragam potensi yang mereka miliki,” katanya.

Sumber : Liputan4.com