Fenomena Fanatisme Beragama dalam Politik, Kupas Buku Rektor UIN Antasari Banjarmasin

 

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalimantan Selatan menggelar bedah buku berjudul ‘Jalan Tengah, Renungan Budaya dan Politik di Era Ekstrem’ karya Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Prof Dr Mujiburrahman, Selasa (8/9/2020) secara daring. Buku tersebut merupakan kumpulan esai dan opini yang ditulis Mujiburrahman di berbagai media cetak dan elektronik.

Dalam buku ini, ia ingin menebalkan pandangan bahwa hampir mayoritas bangsa di dunia sekarang cenderung bersikap berlebihan terhadap situasi perpolitikan maupun dalam hal beragama. “Ini menjadi fenomena di zaman sekarang. Beragama pun menjadi berlebih-lebihan (cenderung) menjadi ekstrem. Bahkan orang yang berbeda pandangan dengan kita itu sudah serta merta masuk neraka, bahkan halal darahnya,” kata Mujiburrahman.

Pandangan politik yang ekstrem, kata dia, misalnya tergambar secara jelas dalam momen Pilpres 2019 silam. Polarisasi politik semakin menjadi-jadi, bahkan tak jarang fanatisme terhadap dukungan salah satu kandidat mengaburkan akal sehat.

“Pandangan politik yang berlebihan menurut saya harus saya hindari saya kira, mengambil jalan tengah yang tidak ekstrem,” imbuh Mujib -sapaannya.

Mujib lantas menyebut jalan tengah merupakan jawaban atas persoalan pandangan dan sikap yang berlebihan. Dirinya menjelaskan dalam beragama ada konsep wasathiyah Islam atau Islam tengah yang merupakan gagasan untuk menyebarkan moderasi Islam. Konsep ini juga mengambil sebuah langkah tidak ekstrem kanan maupun kiri. Prinsip jalan tengah, jelas Mujib, tidak menebarkan hujatan, kebencian, atau pun umpatan yang bersifat sarkasme terhadap seseorang yang berbeda pandangan politik dan beragama.

Salah satu pemantik diskusi dalam bedah buku tersebut, Setia Budhi menganggap buku ini secara halus mengkritik pandangan sebagian masyarakat yang berlebih-lebihan, baik pandangan dalam politik maupun beragama. “Buku ini secara datar, namun tajam menohok fenomena yang terjadi di sekitar kita, seumpama pedang kata yang terhunus, luka tapi tiada berdarah,” kata Kepala Prodi Ilmu Sosiologi FISIP ULM ini.

Budhi juga mengungkapkan kritik yang dilontarkan Prof Mujiburrahman dalam bukunya menyelipkan humor namun tetap dengan makna yang amat mendalam. Ia tak ragu mensejajarkan karya Prof Mujiburrahman dengan karya penulis terkenal Goenawan Muhammad dan Mahbub Junaidi.

Sementara itu, Kepala Dispersip Kalsel Dra Hj Nurliani Dardie menjelaskan kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk membumikan literasi sekaligus mengorbitkan dan mempromosikan penulis buku lokal untuk lebih dikenal masyarakat. Selain mengundang penulis lokal, Nurliani mengatakan Dispersip Kalsel menyediakan satu ruangan khusus untuk buku-buku penulis dan terbitan Kalsel sebagai wujud tanggung jawab dan apresiasi. “Dalam 3 tahun terakhir ini kami selalu menganggarkan untuk pengadaan buku-buku yang ditulis dan dicetak oleh penulis dan penerbit Banua,” tandasnya.

kanalkalimantan.com