Dua Sisi: Penguatan Indeks Literasi dan Indeks Kegemaran Membaca Masyarakat

Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa persoalan indeks kegemaran membaca dan literasi terdapat dalam dua sisi. Pertama dalam sisi hulu, yaitu penulisan, penerbitan, distribusi, regulasi. Kedua dari sisi hilir, yaitu rendahnya kegemaran membaca, rendahnya indeks lierasi, ketimbangan rasio buku dan jumlah penduduk, anggaran terbatas, kurangnya pustakawan.

Lebih jauh dikatakan bahwa berbicara tentang literasi tidak terlepas dari 4 (empat) tingkatan literasi, yaitu:

1. Mengumpulkan, yakni kemampuan untuk mengumpulkan sumber bacaan,

2. Memahami, yakni kemampuan untuk memahami apa yang tersirat dan tersurat,

3. Mengemukakan, yakni kemampuan untuk mengemukakan ide atau gagasan baru teori baru, dan kreativitas serta inovasi baru,

4. Menciptakan yakni kemampuan menciptakan barang atau jasa yang bermutu.

Pemahaman tentang literasi menurut UNESCO, literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, mengkomunikasikan, dan menghitung, menggunakan materi cetak dan tertulis yang terkait dengan berbagai konteks. Literasi melibatkan kontinum pembelajaran dalam memungkinkan individu mencapai tujuan mereka, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka, dan untuk berpartisipasi penuh dalam komunitas mereka dan masyarakat yang lebih luas.

Dari hasil kajian kegemaran membaca masyarakat Indonesia tahun 2020 yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Nilai Tingkat Kegemaran Membaca pada skor 54,17 dengan katagori sedang.

Hal ini mengalami peningkatan jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu tahun 2016 dengan nilai 26,5 (rendah), 2017 dengan nilai 36,48 (rendah), 2018 dengan nilai 52,92 (sedang), dan 2019 dengan nilai 53,84 (sedang).

Sedangkan aktivitas membaca masyarakat Indonesia pada tahun 2020 dikategorikan menjadi frekuensi membaca aktivitas rata-rata 4 kali perminggu, durasi membaca aktivitas rata-rata 1 jam 36 menit/hari, jumlah buku yang dibaca aktivitas rata-rata 2 buku/tiga bulan.

Topik-topik yang sering dibaca masyarakat meliputi agama (66,5%), sastra (46,5%), kesenian, olahraga, dan hiburan (32,7%), teknologi dan ilmu terapan (23,9%), komputer dan sistem informasi (20,2%), geografi dan sejarah (21,3%), bahasa (19,6%), ekonomi (17,5%), biologi (15,9%), dan ilmu murni (9,1%),

Indeks Literasi Masyarakat

Perpustakaan Nasional pada tahun 2020 melaksanakan kajian indeks pembangunan literasi masyarakat, maksud dan tujuan dari kajian ini adalah mengetahui kondisi semua jenis perpustakaan. Mulai dari aspek sebaran perpustakaan, koleksi, tenaga perpustakaan, pemustaka, hingga anggota perpustakaan yang ada di seluruh wilayah Indonesia.

Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai pembangunan literasi masyarakat sebesar 12,93 poin. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 2,81 poin jika dibandingkan nilai pada tahun 2018 sebesar 10,12 point. Adapun indicator rinciannya adalah sebagai berikut:

Pemerataan Layanan Perpustakaan (0,0009), Ketercukupan Koleksi Perpustakaan (0,0833), Ketercukupan Tenaga Perpust (0,0000), Tingkat Kunjungan Masyarakat/hari (0,0013), Perpustakaan ber Standard Nasional Perpustakaan (0,0001), Keterlibatan Masyarakat dalam KIE (0,0142), Anggota Perpustakaan (0,0294).

Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk meneruskan dan mempertajam strategi intervensi yang telah diterapkan adalah sebagai berikut.

  1. Strategi pemerataan layanan perpustakaan dan ketercukupan koleksi buku di perpustakaan,
  2. Penambahan koleksi perlu memperhatikan jenis maupun topik bacaan yang digemari masyarakat,
  3. Optimalisasi teknologi digital untuk memberikan akses kepada masyarakat,
  4. Optimalisasi kerja sama dengan pihak-pihak terkait dalam mendukung penyelenggaraan Pendidikan ilmu keperpustakaan, Kegiatan peningkatan kapasitas tenaga perpustakaan yang profesional. Kegiatan pelatihan bagi SDM potensial di lingkungan perpustakaan untuk mendukung layanan kepada masyarakat,
  5. Standardisasi & Integrasi sistem pencatatan data-data terkait perpustakaan,
  6. Advokasi & kerjasama secara berkelanjutan dengan pemerintah daerah.

Pembangunan Literasi dan Kegemaran Membaca

Pembangunan Literasi dan Kegemaran Membaca masyarakat diwujudkan oleh Perpustakaan Nasional dalam rencana strategis tahun 2020-2024, yaitu terwujudnya pembangunan literasi dan kegemaran membaca masyarakat ditandai dengan meningkatnya indeks pembangunan literasi dan kegemaran membaca dengan indikator.

Pertama, nilai kegemaran membaca dari 53,84 (tahun 2019) menjadi 71,30 (tahun 2024), kedua, indeks pembangunan literasi masyarakat dari 10,2 (tahun 2019) menjadi 15,00 (tahun 2024).

Peningkatan budaya literasi, inovasi, kreativitas bagi terwujudnya masyarakat berpengetahuan, dan berkarakter melalui peningkatan budaya literasi mencakup pengembangan budaya gemar membaca, pengembangan system perbukuan dan penguatan konten literasi, peningkatan akses dan kualitas perpustakaan berbasis inklusi sosial. Kedua, penguatan institusi sosial penggerak literasi dan inovasi, mencakup pengembangan mitra perpustakaan, pengembangan inovasi sosial yang didukung dari pendanaan filantropi.

Literasi 2030

Untuk memajukan literasi sebagai bagian integral dari pembelajaran seumur hidup dan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, UNESCO mengambil pendekatan untuk mempromosikan literasi di seluruh dunia, dengan penekanan pada pemuda dan orang dewasa.

Cara dengan membangun fondasi yang kuat melalui pengasuhan dan pendidikan anak usia dini, memberikan pendidikan dasar yang berkualitas untuk semua anak, meningkatkan tingkat literasi fungsional untuk remaja dan orang dewasa yang tidak memiliki keterampilan literasi dasar, dan mengembangkan lingkungan melek huruf.

Salam Literasi!

Sumber:goodnewsfromindonesia.id