Dispersip Palnam Gencarkan Gerakan Literasi di Kalangan Anak Anak Usia Dini

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Selatan terus menggencarkan gerakan literasi di kalangan anak-anak. Salah satunya dengan melalui literasi di usia dini dengan kegiatan story telling, read aloud, mendongeng, serta membawa badut.

Dispersip Palnam Gencarkan Gerakan Literasi di Kalangan Anak Anak Usia Dini
Tim Dispersip Palnam menghibur dan mengedukasi  anak-anak dengan badut (poto istimewa)

Story telling atau bercerita sebenarnya adalah salah satu bentuk pengajaran yang sudah ada sejak dulu. Sedangkan read aloud atau membaca nyaring merupakan salah satu cara bercerita menggunakan buku kepada anak-anak,” ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Selatan Hj Dra Nurliani Dardie M.AP,  atau sapaan akrabnya Bunda Nunung.

Kegiatan ini berlangsung di panggung pertunjukan Taman Siring Laut Kotabaru dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Protkes) yang ketat dengan membagikan masker serta memasangkannya kepada anak-anak

Ia mengatakan, melalui cerita biasanya anak dengan anak lain dapat saling berkomunikasi. Selain itu, melalui cerita orang dewasa dapat berkomunikasi dengan anak-anak. Cerita juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak dan menjawab rasa penasaran mereka akan berbagai macam hal. “Story telling tidak harus menggunakan buku.  Story telling dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun dan dengan media buku maupun tidak. Story telling memiliki banyak sekali manfaat untuk perkembangan anak-anak,” katanya

Staf Pelayanan pada Dispersip Resky mewakili Kepala Dispersip Propinsi Kalsel, mengatakan, kegiatan perpustakaan keliling ini merupakan kegiatan pokok dinas, yang mana untuk semua wilayah yang terjangkau di wilayah Propinsi Kalsel dan setiap bulan berkeliling ke kabupaten-kabupaten yang ada di Kalsel. “Dan hari ini kita berada di Kotabaru,” ujar Resky.

Sementara itu di lokasi berbeda, Bunda Nunung menambahkan, budaya literasi tidak dapat dilepaskan dalam mewujudkan generasi hebat pada masa mendatang. Pihaknya selaku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimatan Selatan setempat juga memiliki tantangan dalam upaya menumbuhkan budaya literasi. “Tantangan perpustakaan di masa depan adalah bagaimana budaya literasi dimulai sejak dini, menjadi tonggak dan dasar dalam mewujudkan budaya literasi itu sendiri. Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat, kerja sama internal dan eksternal serta ide kreatif untuk menerapkan strategi transformasi perpustakaan berbasis inklusi,” pungkas Bunda Nunung

Sumber:liputan4.com