Dispersip Kalsel Kembali Gelar Sosialisasi UU No 13 Tahun 2018 Tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Rekam

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel kembali sosialisasikan Undang-undang No 13 Tahun 2018 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam, yang digelar di Rattan Inn Banjarmasin, pada Jumat (5/3/2021) hingga Sabtu (6/3/2021). Sosialisasi ini merupakan yang ketiga kalinya diadakan Dispersip Kalsel sejak 2019 silam.

Sosialisasi Undang-undang No 13 Tahun 2018 tentang serah simpan karya cetak dan rekam tahun ini dihadiri oleh Tatat Kurniawati, Koordinator Pengelolaan Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Perpustakaan Nasional dan Wildan Akhyar, Kabid Pelayanan dan Pembinaan Dispersip Kalsel.

Kepala Dispersip Dra Hj Nurliani M.Ap atau Bunda Nunung dalam sambutannya mengatakan, inisiatif melaksanaan sosisalisasi UU No 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, sebagai wujud kepedulian Kalsel terhadap karya masyarakat Banua. “Dispersip Kalsel satu satunya provinsi yang ambil inisiatif untuk sosialisasi. Kami berharap ini menjadi perhatian juga dari Perpusnas,” ucapnya.

Bunda Nunung juga mengucapkan terima kasih kepada segenap peserta yang ikut dalam pelatihan tahun ini yang menurut pengakuan beliau berbeda 95% dari peserta sosialisasi tahun-tahun sebelumnya. “Hari ini total ada 110 orang, dari kalangan guru, sastrawan, media, akademisi, penerbit, dan dinas perpustakaan dan kabupaten/kota di kalsel,” ujarnya. “Sosialisasi ini juga akan terus dilakukan kembali di kesempatan-kesempatan berikutnya sebab masih banyak yang belum mengetahui apa itu Undang-undang No 13 Tahun 2018.”

Sementara itu, Tatat Kurniawati mengatakan, UU No 13 Tahun 2018 merupakan revisi dari UU No 4 tahun 1990 yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. “Karena di undang-undang sebelumnya tidak mengakomodir karya digital. Padahal era sekarang ini, teknologi memegang peran sentral dalam informasi,” katanya.

Tatat mengatakan, serah simpan karya cetak dan rekam dilakukan untuk melindungi aset milik bangsa yang terdokumentasikan dalam karya tulis, karya cetak, dan karya rekam. “Apa yang ditulis jadi jejak perdaban bangsa. Karya cetak dan rekam jadi aset budaya yang harus dilestraikan dan disimpan, dihimpun sebagai tolok ukur kemajuan bangsa,” terangnya.

Sumber:banaranmedia.com