Dispersip Kalsel Adakan Sedaring Kearsipan Pertama di Indonesia, Diikuti Kepala Perpusnas RI

Setelah 8 kali melakukan gelar wicara virtual tentang perpustakaan berbasis inklusi sosial, maupun bedah buku, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melakukan acara serupa lagi, namun dengan tema berbeda, yang untuk pertama kali membahas bidang kearsipan, dengan kegiatan “Sosialisasi Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Negara Periode 2014–2019, serta Arsip Penanganan Covid-19”, menghadirkan arsiparis madya pada Direktorat Akuisisi Arsip Nasional Republik Indonesia (Anri), Drs. Tato Pujiarto, dan Direktur Akuisisi Anri, Rudi Anton, SH, MH, yang dibuka langsung Dra. Hj. Nurliani, M.AP, Kepala Dispersip Kalsel, Kamis (03/09/2020).

Kegiatan ini diikuti sekitar 220 peserta melalui aplikasi Zoom, dan 70 partisipan melalui youtube, yang berasal dari berbagai instansi se-Indonesia.

Dalam sambutannya, Bunda Nunung (sapaan akrab Kepala Dispersip Kalsel) menyampaikan, bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk lebih menggiatkan pengelolaan kearsipan, ditambah kerinduan arsiparis di daerah untuk menambah ilmu lagi, baik pengelolaan arsip statis dan dinamis, serta penanganan arsip di masa Covid-19, agar dapat bermanfaat di masa yang akan datang. “Walau hanya tersisa 4 arsiparis di Dispersip Kalsel, dan 20 arsiparis di berbagai satuan kerja perangkat daerah di Kalsel, tidak melemahkan kegiatan kearsipan di Kalsel, dengan harapan di masa yang akan datang semakin banyak lagi aparatur sipil negara yang menjadi arsiparis,” tambah Bunda Nunung.

Dalam paparan narasumber, Rudi Anton menyampaikan, bahwa arsip sangat penting dikelola dengan benar. Untuk itu, ada pembagian tugas yang mesti dilakukan, seperti sebuah sekretariat yang diharuskan berfungsi sebagai pusat perekaman, agar bisa mengelola arsip inaktif (arsip yang hanya berperan sebagai referensi). Sedangkan arsip aktif dikelola oleh bidang terkait, agar arsip-arsip yang tidak digunakan lagi bisa dipindahkan, guna efesiensi pengelolaan ruang arsip. “Ada tiga langkah panduan untuk pemerintah daerah dalam mengelola arsip, yaitu klasifikasi arsip, jadwal retensi arsip dan sistem klasifikasi keamanan, serta akses arsip dinamis.

Sementara itu Drs. Tato Pujiarto, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini, dan bahkan bisa menjadi percontohan bagi Dispersip lainnya. Apalagi Pemprov Kalsel termasuk daerah yang telah mengajukan pemusnahan arsip ke Anri. “Kita bersyukur, walaupun yang mengadakan kegiatan ini dari Kalimantan Selatan, tapi sifatnya nasional. Saya bisa katakan, ini dari Kalsel untuk Indonesia. Dan dapat saya laporkan, bahwa Kalsel ini adalah provinsi pertama yang mengadakan sedaring khusus untuk sosialisasi ini,” tegasnya saat menjadi narasumber.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Syarif Bando, yang juga mengikuti kegiatan ini, turut memberikan apresiasinya, dan hal ini bisa menjadikan Kalsel lebih terdepan, bukan hanya dalam hal pengelolaan perpustakaan, namun juga dalam hal pengelolaan kegiatan kearsipan.

“Saya sangat bangga dengan kegiatan ini, mengupas bagaimana penyelamatan arsip statis 2014–2019, serta arsip aktif Covid-19. Perpusnas RI secara aktif mengikuti prosedur yang ditentukan oleh 4 pilar dalam ketentuan-ketentuan ANRI, terkait bagaimana mengelola arsip dengan sebaik-baiknya, terutama untuk arsip statis yang ditetapkan memiliki nilai kesejahteraan, dan perlu dikelola dan disimpan di ANRI. Saya juga mengapresiasi kegiatan ini, karena dihadiri oleh para pengelola arsip se-Indonesia” ungkapnya melalui siaran persnya.

jurnalkalimantan.com