Dispersip Inginkan Perpustakaan di Kalsel bisa Terakreditasi

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) terus berupaya berbagai macam untuk meningkatkan minat baca di Banua. Terutama menggelar kegiatan untuk mengenalkan perpustakaan serta mendekatkan buku hingga ke berbagai pelosok atau daerah. Dispersip Kalsel berupaya juga untuk mengoptimalkan peran perpustakaan yang ada di 13 kabupaten/kota, agar dapat memenuhi standar, sehingga bisa lebih menarik minat baca masyarakatnya.

Dalam hal ini, Dispersip Kalsel bekerjasama dengan Perpusnas RI, menggelar sosialisasi akreditasi perpustakaan kepada Perwakilan 13 Dispersip kabupaten/kota, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah menengah pertama dan atas, perguruan tinggi, perpustakaan khusus, dan perpustakaan desa, yang berlangsung dua hari, di salah satu hotel berbintang di Banjarmasin, yang dimulai pada hari Kamis (19/11/2020). Jadi pihak kita terus berusaha memaksimalkan peran perpustakaan.

Diketahui, berdasarkan data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), ternyata hanya ada 64 dari sekian banyak perpustakaan di Kalsel yang terakreditasi. Rinciannya, 38 perpustakaan sekolah, 10 perpustakaan perguruan tinggi, 9 perpustakaan umum, dan 7 perpustakaan khusus, untuk rentang tahun 2011–2020.

Padahal berdasarkan Pasal 11 Undang-undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan harus memenuhi standar, seperti standar koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan, dan pengelolaan. Untuk memenuhi standar tersebut, perpustakaan harus melewati proses penliaian dari Badan Akreditasi Nasional. “Jadi pihak kita terus berusaha memaksimalkan peran perpustakaan. Makanya kita memotivasi dan menginginkan para pengelola perpustakaan di 13 kabupaten/kota agar mempunyai komitmen yang kuat, guna meningkatkan literasi masyarakat, hingga tercapainya standar perpustakaan ini,”ujar Kepala Dispersip Kalsel, Hj Nurliani Dardie dalam sambutannya yang diwakili
Wildan Akhyar, Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan Perpustakaan Dispersip Kalsel.

Sementara itu, Bambang Supriyo Utomo, Asesor Lembaga Akreditasi Perpustakaan, yang juga menjadi narasumber dalam acara sosialisasi ini, menyampaikan, perpustakaan yang terakreditasi, secara umum dikarenakan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni, hingga anggaran dan prasarana yang terbatas. “Namun pada era perpustakaan yang telah bertransformasi saat ini, pengelola perpustakaan harus orang yang kompeten di bidangnya. Ini harus menjadi perhatian bersama, baik Gubernur dan Bupati/Walikota, agar perpustakaan dapat terkelola dengan profesional, dan memenuhi standar yang dapat menumbuhkan minat baca masyarakat didaerahnya,”tutupnya.

tajam.news