Dispersip Bedah Masjid Bersejarah di Kalsel

Lagi-lagi gebrakan dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kalsel. Setelah sukses dengan sederet kegiatan talkshow virtual, kali ini peluncuran dan bedah  buku secara daring. Bahkan bedah kali ini buku bertemakan Islami, “Masjid-masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan” karya Ahmad Barjie dan Aliasnyah Jumbawuya. Bedah buku karya penulis Banua ini, berlangsung di Ruang Rapat Perpus palnam, Kamis (27/8), dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam 1442 Hijriah. Narasumbernya, Sekretaris MUI Kalsel, HM Fadhly Mansoer, serta sang penulis buku, Ahmad Barjie dan Aliasnyah Jumbawuya.

Menurut Kadispersip Kalsel, Hj Nurliani Dardie, kegiatan ini merupakan upaya dispersip mengangkat khazanah kearifan lokal, sekaligus mempromosikan budaya lokal serta penulis Banua. “Keberadaan masjid-masjid tua, penting untuk dipelihara dan dipertahankan eksistensinya. Karena dari situ, kita bisa belajar bagaimana penyiaran Agama Islam di tanah Banjar pada masa-masa awalnya,” jelas Bunda Nunung, sapaan familiarnya.

Dengan peluncuran dan diskusi buku ini, sambung Bunda Nunung, khalayak khususnya generasi muda banua Banjar, menjadi tahu bagaimana kegigihan tetuha bahari mengupayakan berdirinya sebuah masjid, meski di tengah serba keterbatasan dana dan peralatan teknologi. “Termasuk berbagai cerita kekeramatan yang menyertai proses awal pembangunan maupun setelah berdirinya masjid, menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca,” kata Bunda Nunung.

Ahmad Barjie, sang penulis sekaligus narasumber, mengungkapkan, jika masjid-masjid bersejarah di Kalsel tidak segera ditulis, sementara orang-orang tua yang mengetahui persis cerita tentang masjid dimaksud satu persatu meninggal dunia, dikhawatirkan pengetahuan yang sangat berharga tersebut ikut tenggelam. “Dengan adanya buku luks yang penerbitannya dibiayai penuh dispersip ini, kita bisa menyebarluaskan ke masyarakat. Sehingga mereka bisa mengkaji dan mempelajarinya,” ujarnya.

Sementara Aliansyah Jumbawuya menambahkan, seiring dengan waktu dan tuntutan zaman, renovasi masjid-masjid tua di Kalsel merupakan hal yang tak terelakan. Meski demikian, diharapkan keaslian bentuk dan artistektur awal, bisa dipertahankan. Karena di situlah letak keunikan dan daya tariknya. “Paling tidak ada bagian-bagian tertentu yang dipertahankan keotentikannya. Jangan sampai dirombak secara total. Masjid Sultan Suriansyah misalnya, bentuk aslinya yang mengadopsi gaya Masjid Demak dengan perpaduan artistektur khas Banjar, sampai sekarang masih bisa kita lihat. Justru itulah orang tertarik datang untuk melihat,” jelasnya.

Sedang Sekretaris Umum MUI Kalsel, HM Fadhly Mansoer, meyakini buku ini sangat berkontribusi bagi pengembangan syiar Islam. Terutama pada aspek spiritual keagamaan. Sebab fungsi utama masjid itu sebagai tempat ibadah, memantapkan aqidah tauhid. “Kedatangan Islam ke tanah Banjar melalui utusan dari Demak, bergandengan tangan dengan proses pembangunan masjid. Di situ juga terjadi akulturasi budaya, sehingga Islam mudah diterima,” imbuhnya.

banuapost.co.id