Disambangi Ombudsman RI, Dispersip Kalsel Tak Berhenti Berinovasi

Kunjungan Ombudsman RI Perwakilan Kalsel ke Perpustakaan Palnam Dispersip Kalsel tentu menjadi kesan tersendiri. Pasalnya, Dispersip Kalsel mendapat apresiasi penuh atas transformasi yang terjadi di perpustakaan terbesar di Kalsel ini.

Kepala Dispersip Kalsel Hj. Nurliani mengatakan, pihaknya hanya melakukan apa yang bisa dilakukan untuk perbaikan di bidang untuk pokok dan fungsinya. Atau dalam hal ini di bidang kepustakaan dan kearsipan. “Untuk menaikkan pelayanan publik di Perpustakaan Palnam tidak bisa dilakukan setengah-setengah,” kata Bunda Nunung, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, peningkatan layanan publik di Perpustakaan Palnam tidak bisa dilakukan tersendiri. Sehingga, agar dapat melibatkan seluruh unsur, ia menanamkan visi dan misi Perpustakaan Palnam kepada seluruh pegawai. Implikasinya, memberikan rasa nyaman kepada masyarakat yang berkunjung ke perpustakaan.

Apa yang selama ini diupayakan Dispersip Kalsel rupanya membuahkan hasil. Berdasarkan data, tingkat kunjungan ke perpustakaan Dispersip Kalsel di tahun 2019 saja mencapai 729.309 pengunjung. Meningkat cukup signifikan jika dibandingkan di tahun 2016 yang hanya 625.066 pengunjung.

“Dari awal saya sampai bahwa kami hanya melakukan apa yang bisa kami lakukan, karena kami tidak muluk-muluk. Sehingga, menghasilkan kenaikan jumlah pengunjung secara drastis dibanding 3 tahun terakhir,” papar Bunda Nunung.

Sementara, jumlah peminjaman buku juga meningkatkan setiap tahunnya. Di tahun 2019, ada 460.655 peminjaman buku tercatat di perpustakaan yang dikelola Dispersip Kalsel. Selain itu, jumlah buku yang dipinjam mengalami peningkatan, di mana di tahun 2019 saja sudah 655.327 buku yang tercatat telah dipinjamkan.

Terakhir, tingginya promosi Dispersip Kalsel juga berimplikasi pada jumlah anggota yang setiap tahun mengalami peningkatan. Jika di tahun 2016 hanya ada 412.533 anggota, maka di tahun 2019 tercatat sudah ada 464.655 anggota yang mendaftar sebagai anggota perpustakaan.

Ditanya soal inovasi perpustakaan di Yogyakarta yang bisa diantarkan, diakuinya masih belum bisa diterapkan di Perpustakaan Palnam. Karena, tenaga yang diberdayakan di Perpustakaan Palnam terbatas. “Inovasi kami tidak mesti meniru orang. Kami juga berinovasi namun menitikberatkan bagaimana dan apa yag bisa kami lakukan. Karena kami melayani pengunjung yang datang saja hampir kewalahan,” pungkasnya.

Kanalkalimantan.com