Buku Masjid-masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan Sukses Diluncuran dan Dibedah

Setelah sukses menyelenggarakan sederet seminar daring, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali melaksanakan gelar wicara virtual, untuk peluncuran dan diskusi buku karya penulis Banua, Ahmad Barjie dan Aliasnyah Jumbawuya, berjudul “Masjid-masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan”, di kantor Dispersip Kalsel, yang diikuti ratusan peserta melalui aplikasi zoom dan media sosial youtube, Kamis (27/08/2020).

Kepala Dispersip Kalsel, Hj. Nurliani M.AP. dalam sambutannya mengatakan, bahwa meski di tengah pandemi, pihaknya tidak kehilangan kreativitas untuk berbagi ilmu dan wawasan kepada khalayak luas, termasuk komitmen untuk terus mengangkat khazanah lokal Banua Banjar. “Kita selalu mendorong penulis-penulis lokal untuk turut meramaikan dunia literasi. Ada banyak khazanah lokal yang perlu kita gali dan angkat, seperti dengan diterbitkannya buku karya Aliansyah Jumbawuya dan Ahmad Barjie ini, sebagai bentuk ikhtiar kita bersama dalam upaya memelihara nilai-nilai religi, historis, dan budaya yang ada pada masjid-masjid tua di Kalimantan, sekaligus memperkenalkannya kembali kepada generasi sekarang dan akan datang,” jelas Bunda Nunung, panggilan akrab Kepala Dispersip Kalsel.

Nunung
Penulis sekaligus narasumber, Ahmad Barjie mengungkapkan, bahwa buku yang disusunnya ini juga pernah disusun tim dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalsel, namun laporan penelitinya hanya berupa diktat, yang dinilai sangat sederhana. Untuk itu pada era digital dan kemajuan teknologi saat ini, ia mencoba menyajikannya dalam bentuk yang lebih menarik, yakni buku, agar dapat menambah dan mewariskan pengetahuan kepada generasi muda dan yang akan datang. “Dispersip Kalsel yang dikepalai Bunda Nunung, sangat besar sekali peranannya dalam penerbitan buku ini. Seandainya beliau tidak turun tangan, mungkin buku sebagus ini tidak bisa diterbitkan, karena memang perlu biaya yang cukup besar. Kami berharap dengan diterbitkannya buku yang sangat baik dari segi percetakannya ini dapat disebarluaskan, agar masyarakat bisa menikmatinya, mengkaji dan mempelajarinya,” paparnya dalam kegiatan bincang buku ini.

Sementara Aliansyah Jumbawuya menambahkan, pihaknya termotivasi untuk menulis buku ini, agar masyarakat mengetahuinya, walau sekarang banyak fisik masjid bersejarah telah direnovasi dan kelihatan baru, tapi sejarah yang melekat dari masjid itu tidak hilang, karena telah didokumentasikan ke dalam buku. “Sebagai contoh Masjid Syuhada di Pelaihari yang sudah direnovasi, padahal dibangun sebelum perang kemerdekaan. Masjid ini dijadikan para pejuang sebagai markas untuk menyusun strategi perang,” ungkap Aliansyah.

jurnalkalimantan.com