Bedah Sejarah Masjid Lewat Talkshow Virtual Bersama Dispersip Kalsel

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispersip) Kalimantan Selatan terus melakukan inovasi edukasi literasi melalui jalur-jalur kreatif. Ragam topik pembahasan tertuang dalam talkshow virtual, salah satunya membahas agama yang sarat makna dalam kehidupan warga Banua.
“Ini upaya Dispersip mengangkat khazanah kearifan lokal sekaligus mempromosikan budaya lokal dan penulis Banua Kalsel,” ucap Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani saat membuka acara Talkshow Peluncuran dan Diskusi Buku Masjid-Masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan, melalui zoom meeting, Jumat (28/8).

Mengambil momen kemeriahan tahun baru Islam 1442 Hijriah, Dispersip menghadirkan dua narasumber yaitu Ahmad Barjie. B dan Aliansyah Jumbawuya. Topik diskusi kali ini adalah buah karya dari dua penulis tadi. Selanjutnya, narasumber lainnya adalah Sekretaris MUI Kalsel yaitu Fadhly Mansoer.

Menurut Nurliani, keberadaan masjid-masjid tua penting untuk dipelihara dan dipertahankan eksistensinya. Dari situ, generasi muda dapat belajar bagaimana agama Islam tersiar di Banjar pada masa terdahulu.
“Dengan peluncuran dan diskusi buku ini, khalayak luas menjadi tahu bagaimana kegigihan tetuha bahari mengupayakan berdirinya sebuah masjid. Meski dengan keterbatasan dana dan peralatan teknologi,” kata wanita yang akrab disapa Bunda Nunung ini.

Sedikitnya, ada lebih 2.500 masjid yang ada di Kalsel saat ini. Menurut Ahmad Barjie, meski melalui sejumlah renovasi, masjid-masjid bersejarah harus tetap dipelihara dan dipertahankan keasliannya.
“Kalsel merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari nusantara. Masjid-masjid bersejarah, walau direnovasi tetapi keasliannya harus dijaga agar nilai historinya tetap terlihat,” ucap penulis kelahiran Tabalong, 6 Desember 1964 ini.

Baik Barjie maupun Aliansyah sepakat, mereka termotivasi membuat buku ini untuk mendokumentasikan sejarah budaya Islam di Kalsel agar terkenang abadi.
“Kami termotivasi menulis buku-buku sejarah. Sehingga walaupun masyarakat tau fisik yang baru, tetapi sejarah yang melekat di masjid itu tidak hilang,” papar Aliansyah menambahkan.

Dia sendiri tergolong penulis yang aktif di Kalsel. Sedikitnya, 44 buah karyanya telah dibukukan yang sebagian besar membahas seputar budaya di Kalsel. Alumni Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat ini mengungkapkan, sering kali penanggalan pembangunan suatu masjid kerap terlupakan.

Senada, Fadhly Mansoer ikut berkomentar mengenai buku ini. Menurutnya, ini akan menambah khazanah literasi keislaman di kalsel. Aspek keagamaan yang dimunculkan, memberikan spiritualitas pada keimanan seseorang.
“Perlu terus ditingkatkan karena banjarmasin pusatnya ulama dan para tokoh agama Islam. Buku ini sangat bagus pada aspek sejarah, di mana kedatangan Islam masuk ke Kalsel bergandengan dengan hadirnya masjid,” tutur Fadhly.

apahabar.com