Ajak Generasi Milenial Produktif, Dispersip Kalsel Gelar Sedaring Peluang Usaha Hidroponik & Bunga Pangan

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali sukses menggelar sedaring yang ke-16, menghadirkan pelaku usaha hidroponik daerah dan nasional, mengangkat tentang teknik dasar hidroponik serta peluang usahanya, yang dikemas dengan tema “Bertani Asyik Generasi Milenial”.

Salah satu narasumber, dr. Toto Tri Hartanto, pemilik dr. Farm Hidroponik Pelaihari menyampaikan, bahwa peluang usaha hidroponik sangat terbuka lebar, apalagi budidaya ini tidak menggunakan tanah, melainkan hanya memanfaatkan air, dan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman. “Target utama kami adalah pasar modern, super market, hotel juga. Belum selesai panen, nekat kami tawarkan ke pasar modern, buat proposal, akhirnya diterima. Pasar tradisional juga sempat kami tembus melalui pemasok,” papar dr. Toto.

Di kesempatan ini juga dibahas tentang bunga pangan, bunga yang aman disantap, baik sebagai sayuran atau obat herbal, bersama pemilik usaha Ijo Hydro dan pengusaha Edible Flower Bandung, Eva Lasti Apriyani Madarona.

Selain dari Kalsel, partisipan sedaring ini juga berasal dari berbagai daerah dari luar pulau Kalimantan, yang memberikan tanggapan positif, karena telah mengangkat topik yang unik. “Upaya Dispersip Kalsel luar biasa, menemukan topik-topik yang tidak biasa, karena mampu mengubah persepsi tentang bertani yang biasanya digeluti oleh orang tua. Dalam gelar wicara ini semuanya dibuat tersadar, karena para pemateri kebanyakan dari kaum milenial yang sukses di bidang pertanian,” ungkap salah seorang peserta, Nova Rasdiana, saat diwawancarai jurnalkalimantan.com melalui whatsapp, Kamis (24/9/2020).

Sementara itu, Kepala Dispersip Kalsel, Dra. H. Nurliani, M.AP. menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk keterlibatan Perpustakaan Palnam dalam menggerakkan perekonomian masyarakat (perpustakaan untuk kesejahteraan), sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengisi waktu dengan hal-hal yang produktif. “Perpustakaan tidak hanya sebagai tempat orang datang untuk membaca dan meminjam buku, tetapi sudah saatnya bertransformasi, agar memiliki nilai dan kemanfaatan yang tinggi bagi masyarakat melalui pendekatan inklusi. Perpustakaan juga harus mampu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh semangat baru dan solusi, dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan,” papar Bunda Nunung (sapaan akrab Kepala Dispersip Kalsel) saat memberikan sambutan.

Perpustakaan berbasis inklusi sosial, merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan.

jurnalkalimantan.com