Ada Apa ya? Sastrawan dan Seniman Banua Kumpul di Perpustakaan Daerah Kalsel

Perpustakaan bukan hanya tempat mencari buku, membaca atau meminjamnya.

Lebih dari itu, perpustakaan juga tempat bersosialisi dan berkegiatan positif.

Sebagaimana dilakukan pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi (Dispersip) Kalimantan Selatan yang menjadikan fasilitas ini sebagai wadah berkumpul secara berkala para sastrawan daerah.

Adalah acara Dialektika Sastra yang sudah tiga kali digelar di Dispersip Kalsel Jalan Ahmad Yani Km6, sebab itulah acara itu disebut juga Dialektika Sastra Pal 6.

Kepala Dispersip Kalsel, Nurliani Dardie atau akrab disapa Bunda Nunung, mengatakan, sangat mendukung terhadap kegiatan para sastrawan tersebut.
Apalagi dunia sastra selaras dengan misi perpustakaan membudayakan masyarakat untuk membaca (literasi).

“Dialektika Sastra yang kami fasilitasi di sini sudah yang ketiga kali. Terakhir pada pekan lalu. Pastinya, kegiatan ini diadakan setiap bulan pada Sabtu malam,” jelasnya.

Lanjut Bunda Nunung, pada Sabtu (21/7) malam itu temanya; Bincang Puisi, Mengenang Karya Ajamuddin Tifani (1951-2002).

Acara ini juga dilaksanakan dalam rangka meramaikan perayaan Hari Puisi Indonesia 2017 yang jatuh pada 26 Juli, diambil dari hari lahir penyair Chairil Anwar.

Ajamuddin Tifani adalah salah seorang penyair terbesar yang dimiliki Kalimantan Selatan, yang puisi-puisi bernuansa sufistik.

Sufistik di sini berarti bahwa diksi, metafora dan unsur-unsur bahasa maupun yang bersifat puitik di dalam karya-karyanya kaya dengan nuansa sufisme atau tasawuf.

Kemudian ada Dewi Alfianti (sastrawan, dosen FKIP Unlam dan merupakan anak almarhum), Radius Ardanias Hadariah (Kadis Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru yang juga seorang satrawan).

Selain itu, YS Agus Suseno (penyair, salah seorang inisiator penerbitan kumpulan puisi AT Tanah Perjanjian), Fathur Rahmi (pelukis, pendiri Sanggar Seni Rupa Sholihin bersama AT dan pelukis Rizali Noor), Fakhruddin (penyair dan rekan AT).

Sastrawan lain yang turut hadir dan membacakan puisi-puisi Ajamuddin Tifani: Helwatin Najwa (Kotabaru), Trisia Chandra dan Agustina Thamrin (Banjarbaru), Gusti Ardiansyah (Banjarmasin) dan lainnya.

Hadir juga akademisi dari UIN Antasari, Dr Humaidy, yang turut menyumbangkan gagasan dan berharap karya-karya Ajamuddin bisa dibicarakan lebih banyak dalam karya akademis.

Kegiatan ini makin ramai dengan pembacaan puisi Ajamuddin oleh Ahsa dan Untung, generasi terkini sastra Kalsel, dan banyak pecinta sastra dari Banjarmasi.

 

Sumber : Tribun Banjarmasin