10 Mei 2016

Perpustakaan Digital IAIN Antasari

Perpustakaan Digital IAIN Antasari

Setidaknya terdapat dua konteks mengapa digitalisasi koleksi pustaka menjadi strategis bagi perpustakaan IAIN Antasari, yaitu konteks sejarah dan konteks evaluasi fungsional.

Demikian diungkapkan Rektor IAIN Antasari Prof Dr H Akh Fauzi Aseri MA pada peresmian Perpustakaan Digital dan Peluncuran Website Baru UPT Pusat Perpustakaan IAIN Antasari, Jumat (17/10), di Ruang Perpustakaan Digital IAIN Antasari Banjarmasin.

“Kita masih ingat sebelum gedung ini diresmikan, pada bulan Oktober 1998, Perpustakaan Pusat IAIN Antasari mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan sekitar 13.443 judul buku, 56.443 eksemplar (90 persen) dan 12 unit komputer serta peralatan perpustakaan pusat lainnya. Musibah ini mengakibatkan sekitar 700 orang mahasiswa IAIN Antasari tidak bisa menggarap atau menyelesaikan penulisan skripsinya pada tahun itu,” ungkap Rektor di hadapan puluhan undangan.

Bisa dibayangkan, imbuh Rektor, betapa sedihnya dunia pendidikan dan khususnya disiplin ilmu tasawuf. Paling tidak 20 persen dari 108.819 koleksi buku di perpustakaan tersebut merupakan literatur yang mengupas ilmu tasawuf, suatu cabang ilmu yang sepanjang masa selalu digandrungi penggemarnya, bahkan di dunia barat sekalipun. Beberapa peneliti menyebut bahwa jumlah koleksi dalam perpustakaan IAIN Antasari tersebut, merupakan jumlah koleksi ilmu tasawuf terbesar dan terlengkap se antero perpustakaan di tanah air.

“Inilah yang pertama yaitu konteks sejarah yang patut dijadikan latar belakang pentingnya mendigitalisasi koleksi pustaka. Bila boleh kita istilahkan: al-ilmu shaidun wa at-tarqiimu qayduhu (ilmu itu adalah binatang liar sementara digitalisasi adalah tali kendalinya),” ujar Rektor di sela-sela acara.

Konteks kedua, mengapa perpustakaan digital penting, ujar Rektor, adalah bahwa pemanfaatan koleksi masih merupakan tolak ukur evaluasi koleksi yang paling sahih. “Makanya, buku itu untuk dipergunakan, bukan sekadar keawetannya saja yang diperhatikan. Buku lusuh karena sering dimanfaatkan lebih baik ketimbang bukunya kinclong karena tidak termanfaatkan,” ucap guru besar Ilmu Tafsir itu sesaat setelah meresmikan perpustakaan dan meluncurkan website.

Rektor juga mengharapkan kerjasama UPT Pusat Perpustakaan dengan pihak-pihak lain dapat ditingkatkan terutama dalam upaya mendigitalisasi koleksi. (MHM).

Berita Lainnya
Leave a reply