9 Mei 2016

Menilik Pustaka Digital Unesco

Menilik Pustaka Digital Unesco

Badan kebudayaan PBB, UNESCO pertengahan bulan April mulai meluncurkan perpustakaan internet internasional, World Digital Library.

Berbekal koleksi dari perpustaakan dan lembaga arsip dari berbagai penjuru dunia, World Digital Library menyediakan akses gratis ke khazanah informasi dan gambar mulai dari kaligrafi kuno Persia hingga foto dari kawasan Amerika Latin, lapor wartawan BBC Emma Jane Kirby dari Paris.

Koleksi yang tersedia dilaporkan mencakup manuskrip, lukisan, peta, foto, dan film langka.

Asia Timur dan Asia Tenggara juga terwakili di sana. Dari Jepang misalnya, ada novel yang ditulis pada abad ke-11, Genji monogatari.

Dari Indonesia, orang bisa melihat cuplikan Babad Paku Alaman.

Di situs World Digital Library Unesco, juga ada versi digital lukisan antelop dari Afrika selatan yang sudah berumur 8 ribu tahun.

Juga ada peta pertama yang menyebut nama America. Peta tersebut diciptakan seorang biarawan Jerman pada awal abad ke-16.

James Billington dari Perpustakaan Kongres Amerika mengatakan, perpustakaan digital ini memungkinkan orang dari seluruh pelosok dunia bisa melihat koleksi yang mereka sulit akses dengan cara lain.

“Buku pertama di Amerika Utara dan berkas dokumen pertama bersejarah tidak menyajikan keseluruhan sejarah, tapi merangsang rasa ingin tahun orang untuk belajar lebih baik dengan membaca dan proses pendidikan di mana pun mereka berada,” ujar Billington.

Bukan pertama

World Digital Library bukanlah perpustakaan digital pertama di dunia. Menurut beberapa catatan, proyek baru PBB ini merupakan perpustakaan digital berskala besar ketiga di dunia.

Menurut Direktur Perpustakaan Nasional Serbia, Sreten Ugrici mengatakan, perpustakaan baru akan mempertemukan orang dari berbagai latar belakang bidang kehidupan.

“Kriteria kami adalah paduan eksklusivitas budaya dan bahan, dan inklusivitas semua kawasan dunia, dan zaman sejarah manusia. Perpustakaan ini juga padu keragaman budaya atau bangsa dan universalitas nilai-nilai warisan mereka,” kata Sreten Ugrici.

Saat resmi mulai dibuka, ada 30 perpustakaan dan lembaga bertaraf nasional ikut memperkaya koleksi perpustakaan digital Unesco. Direktur World Digital Library John Van Oudenaren mengharapkan, sumbangan akan masuk dari seluruh penjuru dunia.

“Saat melangkah maju, ada dua tantangan besar. Pertama, menggalang lebih banyak mitra, 30 itu sudah bagus,” katanya.

“Saat anda melihat ada lebih dari 190 negara di dunia, kami masih akan harus bekerja lama. Dengan demikian, kami harus memperbanyak mitra, dan kami harus menambahkan lebih banyak lagi isi, buku, naskah dan peta,” tambah Van Oudenaren .

Terkait Indonesia

Perpustakaan Digital Dunia Unesco ini diharapkan bisa ikut meningkat pemahaman akan budaya dunia, dengan membuat khazanah budaya dari berbagai benua bisa diakses oleh banyak audiens.

Perpustakaan Digital Dunia Unesco juga ditargetkan untuk mengurangi kesenjangan digital antarnegara.

Setelah mengakses World Digital Library, profesional perpustakaan Wien Muldian mengatakan, dia terkesan dengan cara penyajian koleksi perpustakan online tersebut.

Jika anda search dengan kata kunci Indonesia, muncul 30 mata koleksi berupa foto hitam putih, peta dan cuplikan naskah kuno.

Jumlah itu masih jauh dari kata memadai untuk bisa membantu orang melihat sejarah dan budaya nusantara, kata Piem Westerkamp, kurator spesialis Indonesia di Tropen Museum di Amsterdam, Belanda.

Menurut Westerkamp, Museum Tropen, misalnya, memiliki puluhan ribu gambar, peta dan foto historis terkait sejarah dan kebudayaan Indonesia.

“Kami berharap di masa depan itu bisa ditambahkan ke World Digital Library,” kata Westerkamp.

Westerkamp menambahkan dukungan sumber daya dan dana diperlukan untuk memungkinkan negara berkembang bisa memberikan kontribusi lebih besar ke proyek seperti digital

Berita Lainnya
Leave a reply